Dalam pertemuan di sela-sela KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Tianjin, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping bersepakat untuk memperkuat hubungan bilateral dengan saling menghormati dan memperkuat kepercayaan—mengakhiri dominasi narasi konfrontasi.
Modi menyoroti suasana perdamaian dan stabilitas di sepanjang perbatasan Himalaya yang selama ini memanas, serta menyatakan komitmennya pada hubungan berdasarkan rasa hormat, kepercayaan, dan kepekaan bersama.
Sementara itu, Xi menyampaikan bahwa perbatasan seharusnya tidak mendefinisikan hubungan secara keseluruhan. Ia menekankan potensi kerja sama yang luas apabila kedua negara melihat satu sama lain sebagai mitra, bukan rival.
Inisiatif Konkret untuk Pemulihan Hubungan
Pembukaan kembali penerbangan langsung antara India dan China, termasuk Yatra ke Kailash Mansarovar.
Penarikan hambatan ekspor atas komoditas penting seperti logam langka dan mesin bor terowongan.
Penyebaran selebaran lewat drone sebagai simbol diplomasi keras, meski tetap menekankan komitmen terhadap stabilitas.
Tantangan Tertinggal: Defisit Perdagangan & Isu Air
India mencermati defisit perdagangan besar, mencapai nilai yang memicu kekhawatiran ekonomi dan ketergantungan.
Selain itu, proyek bendungan besar di Tibet yang dikembangkan China berpotensi mengurangi aliran air Sungai Brahmaputra hingga 85% saat musim kemarau, meningkatkan kekhawatiran strategis India atas pasokan air dan ketahanan pangan.
Ringkasan Inti
| Isu Utama | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Ketegangan Perbatasan | Stabil, dengan kesepakatan pengelolaan bersama garis LAC |
| Fokus Hubungan | Dialog politik dan strategis untuk memperkuat kerja sama bilateral |
| Langkah Praktis | Menghidupkan kembali penerbangan, memperlancar ekspor, dan visa untuk ziarah |
| Ancaman Tertunda | Defisit perdagangan dan dampak proyek air tawar di Tibet terhadap Brahmaputra |
Pertemuan Modi dan Xi menciptakan momentum diplomatik baru dimana India dan China membuka lembaran menuju kerjasama berkelanjutan dan saling menguntungkan, meski tantangan strategis tetap menjadi pekerjaan rumah kedua negara.[]










