BREAKING

NASIONAL

Aktivis 98 Kecam Aksi Brutal Aparat, Desak Keadilan atas Gugurnya Driver Ojol

Jakarta – Buntut tragis hilangnya satu nyawa, seorang driver ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan, menyulut kecaman keras dari Aktivis 98. Affan menjadi korban saat mobil taktis (rantis) Brimob menabraknya di kawasan Pejompongan dekat Gedung DPR/MPR pada 28 Agustus 2025.

Aksi Demonstrasi yang Berujung Tragedi

Saat itu, aksi massa berlangsung di depan Gedung DPR, yang kemudian berujung fatal ketika mobil rantis melindas Affan hingga tewas. Kejadian ini langsung menjadi simbol represifitas aparat terhadap demonstran damai dan memicu peringatan serius atas kebebasan berekspresi dan risiko bagi pengemudi ojol yang ikut menyuarakan aspirasinya.

Pernyataan Tegas dari Aktivis 98

Aktivis 98 menyampaikan pernyataan resmi menyoroti tragedi ini sebagai bukti nyata kekerasan negara masih terjadi:

  • “Gugurnya kawan Ojol adalah duka mendalam sekaligus tamparan keras bagi demokrasi Indonesia. Aparat yang seharusnya menjaga keamanan justru berubah menjadi alat represi.”

  • Mereka mengajak seluruh elemen rakyat dan mahasiswa untuk menolak segala bentuk kekerasan aparat dan memperjuangkan hak untuk bersuara secara damai.

Tuntutan Tegas untuk Penegakan Keadilan

Aktivis 98 menyampaikan enam tuntutan mendesak:

  1. Berduka cita mendalam atas tewasnya Affan Kurniawan.

  2. Hukum berat dan tanpa impunitas bagi aparat pelanggar hukum.

  3. Kecaman atas tindakan brutal aparat dalam meredam demonstrasi.

  4. Segera copot Kapolri dan Kapolda Metro Jaya karena dianggap gagal mencegah tragedi ini.

  5. Solidaritas penuh bersama rakyat dalam mempertahankan demokrasi dan melawan represi.

  6. Tolak elit politik yang mempertontonkan superioritas di tengah penderitaan rakyat.

Sorotan Tambahan dari DPR

Ketua DPR RI, Puan Maharani, juga ikut angkat suara, mengimbau aparat untuk tidak menggunakan kekuatan berlebihan saat mengawal demonstrasi. Ia menegaskan bahwa tugas mereka adalah mengamankan, bukan melukai, dan meminta agar aspirasi rakyat disampaikan dengan tertib dan didengar secara serius oleh DPR.

Refleksi Rakyat & Bahaya Represi Negara

Warga dan pengamat menyatakan bahwa tragedi ini menyiratkan krisis kepercayaan publik terhadap institusi keamanan. Ramainya tagar seperti #PolisiPembunuhRakyat di media sosial mencerminkan kemarahan dan permintaan keadilan dari publik. Rasa kehilangan sekaligus amarah terhadap tindakan kekerasan menjadi momentum penting bagi pembenahan sistem dalam negara demokratis.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts