BREAKING

OPINI

Pesantren Adalah Tempat yang Paling Ikhlas

Oleh: Dr. Wahyu Khafidah**

Pondok pesantren, yang lebih dikenal dengan nama dayah khusus di Aceh, adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang sudah masyhur dan terkenal di Indonesia. Hal ini tidak diragukan lagi, bahkan pesantren/dayah lahir jauh sebelum Indonesia merdeka dan juga ikut andil dalam kemerdekaan Indonesia. Jika kita melirik sejarah, ada upaya dan peran pesantren/dayah dalam kemerdekaan yang meliputi perjuangan fisik melalui laskar santri serta gerakan sosial keagamaan dengan Resolusi Jihad pada saat itu.

Peran pesantren sebagai pusat pendidikan menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air melalui pembentukan karakter pejuang dan penggerak perlawanan, baik melalui pertempuran langsung maupun perjuangan melawan penjajah. Di zaman saat ini, pesantren/dayah menjadi pilar terkuat sebagai tempat umat mencari pendidikan, keberkahan, dan suri teladan.

Pesantren/dayah mengembangkan pendidikan dan pengembangan masyarakat. Pesantren menjadi pusat pendidikan dan pengembangan spiritual. Pesantren menjadi pusat pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi fondasi bagi para pejuang. Pesantren juga menyiapkan pemimpin masa depan melalui pendidikan yang diberikan, mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pemimpin yang berkarakter, terdidik, dan bertanggung jawab dalam membangun bangsa.

Baru-baru ini, viral sebuah stasiun TV dengan narasinya memberikan argumen yang menyudutkan pesantren/dayah. Hal ini mendapat kecaman dari masyarakat, bahkan dari para alumni pesantren/dayah. Dengan kata-kata sinis dan menyakitkan, argumen dan narasi yang disampaikan sangat tidak layak untuk didengar. Narasinya sangat menyudutkan, seolah menjustifikasi dan memberi label yang tidak baik.

Bisa dikatakan pesantren/dayah menjadi tempat paling ikhlas di dunia ini. Pesantren/dayah adalah tempat yang paling ikhlas, didasarkan pada prinsip-prinsip utamanya yang mengedepankan keikhlasan sebagai pondasi kehidupan santri. Di pesantren, santri diajarkan untuk melakukan segala sesuatu sebagai ibadah dan meraih ridha Allah SWT serta ridha guru, dilakukan tanpa pamrih. Kehidupan di pesantren, mulai dari belajar hingga kegiatan sehari-hari, melatih santri untuk hidup dengan kesabaran dan mengutamakan keikhlasan.

Belajar ikhlas dengan mengharap berkah, hal ini seperti tercantum dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar (39): 2–3:

“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang ikhlas.” (QS. Az-Zumar: 2–3)

Kemudian dalam Surat Al-Bayyinah (98): 5:

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Selanjutnya dalam Surat Ghafir (40): 65:

“Dialah Yang Maha Hidup, tidak ada tuhan selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Ghafir: 65)

Maka ketika ikhlas, seseorang akan mendapatkan ganjaran yang besar. Hal ini seperti tertuang dalam hadis yang menyatakan bahwa amalan seseorang dinilai berdasarkan niatnya yang ikhlas dan Allah akan menolong orang yang ikhlas (HR. Bukhari & Muslim, HR. Ahmad). Ikhlas itu akan tumbuh dengan sendirinya melalui pembiasaan, bukan karena paksaan.

Penerapan konsep ikhlas tidak hanya dalam kegiatan belajar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, seperti berusaha sungguh-sungguh, membantu masyarakat, membantu guru, membantu pesantren/dayah, dan membantu sesama dengan niat karena Allah semata.

Pemberian sedekah dari masyarakat kepada guru, kiai, dan pondok pesantren/dayah adalah bentuk membalas jasa dan menghargai guru. Memberikan uang adalah bentuk penghargaan atas jasa besar para pengajar yang telah memberikan ilmu agama, mendidik akhlak, serta meluangkan waktu dan tenaga tanpa mengharapkan upah besar, bahkan terkadang tanpa upah sama sekali. Tentunya dengan pemberian upah dapat membantu kesejahteraan guru. Sedekah ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sering kali disalurkan kembali kepada orang lain.

Dalam Islam, sedekah adalah investasi pahala, yang sering diwujudkan dalam bentuk sedekah jariyah dan dilakukan tanpa paksaan. Dengan adanya sedekah ini, tentu dapat memperkuat dan memperkokoh pendidikan agama. KH. M. Anwar Manshur mengatakan bahwa mencari ilmu itu untuk diamalkan dengan tindakan; yang buruk harus ditinggalkan.

Akhirnya, semoga penulis naskah dan pembaca naskah yang sedang viral mendapatkan petunjuk dan cahaya, serta dapat mengenal pesantren/dayah lebih dalam agar tumbuh rasa ikhlas dalam hatinya. Semoga kita dapat membangun nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh pesantren dan bersama-sama membangun harmoni sosial di tengah masyarakat Indonesia.

Kepada Allah kami berlindung dengan segenap daya dan upaya. Akhir tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk membaca:

Hasbunallah wa ni‘mal wakil, ni‘mal maula wa ni‘man nashir,
yang artinya: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong kami.”

**)Penulis: Penulis Adalah Ketua Prodi PIAUD Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh.

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts