BIREUEN – Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 di Kabupaten Bireuen tidak sekadar diwarnai upacara seremonial. Sebanyak enam guru dan dua kepala sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB menerima penghargaan atas kontribusi dan inovasi mereka dalam dunia pendidikan.
Penghargaan tersebut diserahkan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Wilayah Kabupaten Bireuen, Yusnita, SE., Ak., M.Pd., dalam rangkaian peringatan Hardikda yang berlangsung di halaman SMA Negeri 1 Kuala, Bireuen, Rabu, 2 September 2026.
Upacara diikuti ratusan peserta yang terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, serta unsur pendidikan lainnya. Momentum tersebut menjadi panggung apresiasi bagi pendidik yang dinilai menunjukkan kapasitas, kreativitas, dan kepemimpinan dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di Bireuen.
Enam penerima penghargaan sebagai Fasilitator Pembelajaran Mendalam-KKA Aceh yakni Muhammad, S.Pd.I. dari SMA Negeri 1 Samalanga; Julaidar, S.Pd., M.Pd. dari SMK Negeri 1 Gandapura; Dr. Istiarsyah, S.Pd.I., S.Pd., M.Ed. dari SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen; Indra Amsal, S.Pd., Gr. dari SLB Negeri Bireuen; Husniati, S.Pd. dari SMA Negeri 3 Samalanga; serta Ermawati, S.Kom., M.Kom. yang merupakan Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb.
Selain penghargaan tersebut, Junaidi, ST, guru Teknik Pengelasan SMK Negeri 1 Gandapura, memperoleh penghargaan sebagai Guru Inovatif.
Penghargaan itu tidak lepas dari karya inovasi yang dikembangkan Junaidi bersama tiga siswa bimbingannya. Mereka merancang sistem pendeteksi asap rokok terintegrasi Internet of Things (IoT) untuk toilet siswa.
Tiga siswa yang terlibat dalam pengembangan inovasi tersebut ialah Arief Maulana dan Muhammad Al Farishi dari kompetensi keahlian Teknik Kendaraan Ringan, serta Zahiru Rafa Habib dari Teknik Pengelasan.
Karya tersebut kini tengah dibawa ke ajang STEAMpreneur SMK 2026, sebuah program kokurikuler Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendorong siswa SMK menghasilkan inovasi untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus mengembangkan jiwa kewirausahaan berbasis STEAM.
Sementara itu, penghargaan Kepala Sekolah Inspiratif diberikan kepada Kepala SMK Negeri 1 Gandapura, Feri Irawan, S.Si., M.Pd.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kepemimpinan kepala sekolah yang dinilai mampu menghadirkan gagasan inovatif, menghasilkan dampak nyata, serta menempatkan kemajuan peserta didik sebagai orientasi utama pengelolaan sekolah.
Kepemimpinan tersebut juga dinilai tercermin dari kemampuan membangun kolaborasi dengan guru, tenaga kependidikan, hingga dunia industri dalam memperkuat pendidikan vokasi.
Penyerahan penghargaan berlangsung di sela-sela upacara peringatan Hardikda Aceh ke-67 di lapangan SMA Negeri 1 Kuala. Dalam kesempatan itu, Yusnita juga membacakan amanat tertulis Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
Dalam amanat yang dibacakan pada Rabu, 2 September 2026, Hardikda ditegaskan tidak semestinya berhenti pada upacara, spanduk, maupun agenda tahunan. Peringatan tersebut harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan pendidikan Aceh, termasuk mengukur sejauh mana mutu pendidikan telah berkembang dan memberikan perubahan nyata terhadap masa depan anak-anak Aceh.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan kualitas pendidikan sebagai salah satu faktor penting yang menentukan arah masa depan Aceh. Karena itu, peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai akademik.
Pendidikan juga dituntut mampu membentuk karakter, kreativitas, kemampuan berinovasi, serta kesiapan generasi muda menghadapi persaingan pada tingkat nasional maupun global.
Sejalan dengan tema Hardikda ke-67, “Memajukan Pendidikan Aceh, Membangun Generasi Islami, Unggul, dan Bermartabat”, Yusnita menekankan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak boleh dibebankan hanya kepada guru.
Menurutnya, kemajuan pendidikan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, hingga pemangku kepentingan lainnya.
“Di momentum Hardikda ini, mari satukan langkah, bergandeng tangan, dan ambil peran untuk mewujudkan pendidikan Aceh yang unggul dan bermartabat. Setiap suara, setiap aksi, dan setiap kolaborasi adalah bagian penting dari perubahan,” tegas Yusnita dalam amanat yang dibacakannya, Rabu (2/9/2026).
Ia juga mengajak seluruh elemen pendidikan menciptakan ruang belajar yang aman dan mampu membuka potensi peserta didik sehingga anak-anak Aceh memiliki bekal yang kuat untuk menyongsong masa depan.
Pemberian penghargaan kepada enam guru dan dua kepala sekolah tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam peringatan Hardikda di Bireuen: kualitas pendidikan tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari kerja nyata pendidik di sekolah.
Penghargaan terhadap guru inovatif, fasilitator pembelajaran, dan kepala sekolah inspiratif diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Apresiasi tersebut harus menjadi pemantik agar semakin banyak pendidik berani menciptakan pembelajaran baru, membangun kolaborasi, serta menghadirkan inovasi yang benar-benar berdampak bagi peserta didik.
Peringatan Hardikda Aceh ke-67 di Bireuen akhirnya bukan sekadar perayaan kalender pendidikan. Di tengah tuntutan perubahan teknologi dan kebutuhan kompetensi generasi muda, penghargaan tersebut menjadi penegasan bahwa guru dan kepala sekolah memiliki posisi strategis dalam menentukan wajah pendidikan Aceh ke depan.(*)











