BREAKING

OPINI

Membangun Guru, Membangun Aceh: Kiprah Kabid GTK yang Menginspirasi

Kiprah Kabid GTK Pendidikan Aceh Junaidi dalam memperkuat kesejahteraan, pemerataan, dan kompetensi guru demi membangun pendidikan Aceh.

Penulis: Edi Syahputra H, S.Pd.
Guru SMAN 13 Banda Aceh/Pemerhati Pendidikan Aceh.

JIKA ingin melihat masa depan Aceh, jangan hanya melihat pembangunan gedung dan infrastruktur. Lihatlah ruang-ruang kelas. Di sanalah masa depan Aceh sedang dibentuk.

Di dalam ruang kelas, ada guru yang setiap hari berdiri di hadapan anak-anak Aceh. Dengan keterbatasan dan berbagai tantangan, mereka tetap mengajar, mendidik, membimbing, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan. Dari tangan merekalah lahir generasi yang kelak akan menjadi pemimpin, profesional, pengusaha, birokrat, dan berbagai profesi lainnya.

Karena itu, membangun pendidikan Aceh tidak cukup hanya dengan membangun sarana dan prasarana. Membangun pendidikan harus dimulai dari membangun manusianya, dan membangun manusia berarti memperkuat gurunya.

Di titik inilah keberadaan Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Aceh memiliki arti strategis. Salah satu sosok yang berada di garis penting dalam urusan tersebut adalah Kabid GTK Pendidikan Aceh, Junaidi, SST., M.Pd.

Kiprah dan arah kebijakan GTK yang menaruh perhatian pada kesejahteraan guru, pemerataan guru, serta peningkatan kompetensi merupakan bagian penting dari upaya membangun fondasi pendidikan Aceh yang lebih kuat.

Kesejahteraan Bukan Kemewahan

Sering kali guru disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ungkapan itu memang indah, tetapi guru juga manusia yang memiliki kebutuhan dan tanggung jawab kehidupan.

Karena itu, membicarakan kesejahteraan guru bukanlah sesuatu yang berlebihan. Justru merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan.

Guru yang mendapatkan perhatian dan pelayanan yang baik akan memiliki ketenangan lebih besar dalam menjalankan tugas. Sebaliknya, persoalan kesejahteraan dan administrasi yang berlarut-larut dapat menguras energi yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan pembelajaran.

Kesejahteraan juga bukan semata-mata berbicara tentang penghasilan. Ada aspek kepastian, pelayanan, penghargaan, kesempatan pengembangan karier, dan perlindungan profesional.

Dalam hal ini, peran GTK menjadi sangat penting. Kebijakan yang berpihak pada kebutuhan guru harus terus diperkuat dan diwujudkan melalui pelayanan yang transparan, cepat, dan solutif.

Guru tidak selalu meminta sesuatu yang berlebihan. Sering kali guru hanya ingin didengar, dilayani dengan baik, dan mendapatkan kepastian.

Pemerataan Guru, Jangan Ada Sekolah yang Kekurangan

Aceh memiliki kondisi wilayah yang sangat beragam. Ada sekolah yang berada di pusat kota, ada pula yang berada di wilayah yang jauh dan memiliki tantangan geografis tersendiri.
Persoalan distribusi guru tentu menjadi pekerjaan besar.

Kita tidak ingin ada sekolah yang memiliki tenaga pendidik berlebih pada satu bidang, sementara sekolah lain kekurangan guru untuk mata pelajaran tertentu.

Pemerataan guru bukan sekadar persoalan

memindahkan seseorang dari satu sekolah ke sekolah lain. Pemerataan harus berdasarkan data dan kebutuhan nyata sekolah.

Berapa jumlah peserta didik? Berapa rombongan belajar? Mata pelajaran apa yang kekurangan guru? Bagaimana kondisi wilayah? Semua harus menjadi pertimbangan.
Jika pemerataan guru berjalan baik, maka setiap anak Aceh akan memperoleh hak pendidikan yang lebih adil.

Tidak boleh kualitas pendidikan ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan atau di mana ia bersekolah.

Anak di kota dan anak di pelosok Aceh sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan guru yang berkualitas.

Guru yang Hebat Harus Terus Belajar

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: guru juga harus terus berkembang.

Perubahan zaman begitu cepat. Teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan karakter peserta didik, asesmen, serta berbagai pendekatan pembelajaran baru menuntut guru untuk terus belajar.

Guru yang berhenti belajar akan kesulitan menghadapi peserta didik yang hidup dalam dunia yang terus berubah.

Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus menjadi gerakan bersama.

MGMP, komunitas belajar, pelatihan, pendampingan, seminar, berbagi praktik baik, serta pemanfaatan teknologi harus diperkuat.

Namun, peningkatan kompetensi tidak boleh sekadar mengejar sertifikat. Yang jauh lebih penting adalah perubahan praktik pembelajaran di kelas.
Pelatihan dianggap berhasil bukan ketika guru mendapatkan sertifikat, tetapi ketika setelah mengikuti pelatihan ia mampu mengajar lebih baik, lebih kreatif, dan lebih memahami kebutuhan peserta didiknya.

Di sinilah kepemimpinan GTK ditantang untuk menghadirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan guru.

Pemimpin Pendidikan Harus Hadir

Kepemimpinan pendidikan pada akhirnya berbicara tentang keberanian untuk hadir.
Hadir mendengar keluhan guru. Hadir mencari solusi. Hadir menjelaskan kebijakan.
Hadir memastikan program berjalan. Dan yang paling penting, hadir untuk memastikan bahwa kebijakan tidak berhenti sebagai dokumen.

Kabid GTK berada pada posisi yang strategis untuk membangun jembatan komunikasi antara pemerintah dan guru.

Kebijakan akan lebih kuat apabila lahir dari pemahaman terhadap kondisi nyata di lapangan.

Guru bukan hanya objek kebijakan. Guru adalah mitra pemerintah dalam membangun pendidikan.
Karena itu, ruang dialog dengan guru harus terus dibuka. Masukan dari sekolah perlu didengar. Praktik baik dari guru perlu diapresiasi dan dikembangkan.

Tiga Pilar untuk Pendidikan Aceh

Jika dirangkum, ada tiga hal yang sangat penting dalam membangun guru Aceh.

Pertama, kesejahteraan. Guru membutuhkan kepastian dan perhatian agar dapat mengabdi dengan tenang.

Kedua, pemerataan. Guru harus hadir sesuai kebutuhan sekolah agar tidak terjadi kesenjangan layanan pendidikan.

Ketiga, kompetensi. Guru harus terus belajar agar mampu menghadapi tantangan zaman.
Ketiganya tidak dapat berdiri sendiri.

Guru yang sejahtera tetapi tidak berkembang kompetensinya akan menghadapi tantangan zaman. Guru yang kompeten tetapi tidak ditempatkan sesuai kebutuhan juga akan menghadapi persoalan. Begitu pula pemerataan tanpa peningkatan kualitas tidak akan menghasilkan perubahan maksimal.

Maka, ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan.

Menanam Hari Ini, Memanen Masa Depan

Pendidikan adalah pekerjaan yang hasilnya tidak selalu dapat dilihat dalam satu atau dua tahun.

Seorang guru mungkin mengajar seorang anak hari ini, tetapi hasil pendidikannya baru terlihat puluhan tahun kemudian ketika anak tersebut menjadi orang dewasa dan mengambil peran dalam masyarakat.

Itulah sebabnya investasi pendidikan adalah investasi jangka panjang.
Kita mungkin tidak dapat langsung melihat hasilnya. Namun, setiap kebijakan yang memperkuat guru sesungguhnya sedang menanam masa depan.

Kepemimpinan Junaidi, SST., M.Pd. di bidang GTK Pendidikan Aceh diharapkan dapat terus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas guru dan tenaga kependidikan.

Tentu, masih banyak tantangan dan pekerjaan rumah. Kritik, masukan, dan evaluasi tetap diperlukan agar kebijakan semakin baik.
Sebab pendidikan tidak boleh berjalan tanpa pengawasan dan partisipasi masyarakat.
Namun, setiap langkah positif untuk memperkuat guru patut diberikan ruang untuk berkembang.

Aceh membutuhkan guru yang sejahtera, profesional, kompeten, dan ditempatkan sesuai kebutuhan.

Dari guru seperti itulah lahir peserta didik yang percaya diri, berkarakter, kreatif, dan mampu bersaing.

Maka, jangan pernah menganggap investasi kepada guru sebagai beban.

Guru adalah investasi paling penting bagi masa depan Aceh.

Ketika kita memperkuat guru, sesungguhnya kita sedang memperkuat sekolah.

Ketika kita memperkuat sekolah, kita sedang membangun generasi.

Dan ketika kita membangun generasi, kita sedang menyiapkan masa depan Aceh.

Membangun Guru, Membangun Aceh.(*)

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts