VATIKAN – Pemimpin Takhta Suci Vatikan, Paus Leo XIV, menyampaikan belasungkawa dan rasa duka mendalam menyusul bencana banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan kawasan Tibet. Bencana hidrometeorologi ekstrem tersebut telah merenggut lebih dari 600 korban jiwa, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.
Ungkapan solidaritas spiritual tersebut disampaikan melalui telegram resmi yang ditandatangani oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, dan dipublikasikan melalui saluran Vatican News pada Sabtu (29/8/2026).
Dalam pesannya, Paus mendoakan keselamatan jiwa para korban yang meninggal dunia serta memohon kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan di tengah masa-masa duka yang berat. Beliau juga secara khusus memberikan dukungan moril dan doa perlindungan bagi jajaran personel darurat yang tengah berjuang menjalankan misi kemanusiaan di medan bencana.
Picu Kehancuran di Perbatasan dan Korban Peziarah
Peristiwa mematikan ini terjadi pada Rabu (26/8/2026), dipicu oleh runtuhnya sebagian dinding gletser di kawasan Pegunungan Himalaya. Fenomena tersebut memuntahkan volume air raksasa bercampur material lumpur dan bebatuan padat (debris) ke jalur sungai perbatasan Nepal-China. Kuatnya hentakan material bahkan sempat memicu getaran seismik yang menyerupai gempa bumi.
Hantaman bah bandang memorak-porandakan permukiman warga serta melumpuhkan akses jembatan, jalan raya, dan jaringan kelistrikan.
Dampak bencana juga meluas hingga ke wilayah Tibet yang berbatasan langsung. Berdasarkan estimasi lapangan, total korban hilang di seluruh wilayah terdampak diperkirakan mendekati 1.500 jiwa. Sebagian di antara korban yang belum ditemukan merupakan wisatawan mancanegara yang sedang menempuh rute ziarah spiritual ke Gunung Kailash dan Danau Mansarovar—kawasan sakral bagi penganut agama Hindu, Buddha, Jain, dan tradisi Bon.
Operasi SAR Terhalang Cuaca dan Ancaman Susulan
Otoritas berwenang di Nepal dan wilayah terdampak telah mengerahkan ribuan personel gabungan dari unsur militer, kepolisian, dan tim penyelamat khusus. Armada helikopter terus dioperasikan untuk menyisir titik-titik terisolasi yang tidak dapat dijangkau jalur darat akibat kerusakan infrastruktur.
Kendati demikian, proses pencarian menghadapi tantangan berat akibat kontur pegunungan yang terjal, jalanan terputus, serta tingginya risiko tanah longsor dan potensi banjir susulan.
Tragedi ini kembali membunyikan alarm bahaya terkait kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak krisis iklim global. Kenaikan suhu bumi yang terus meningkat mempercepat laju pencairan es abadi dan pembentukan danau-danau gletser yang sewaktu-waktu dapat memicu bencana serupa (Glacial Lake Outburst Flood).[]











