SEANTERONEWS.com – Perang Iran yang memasuki bulan keenam mulai mengubah peta keamanan energi dunia. Hampir separuh pasokan minyak global kini berasal dari kawasan yang terdampak konflik atau berada di bawah tekanan geopolitik, menempatkan pasar energi internasional dalam situasi yang jauh lebih rentan dibandingkan krisis-krisis sebelumnya.
Laporan Reuters, Selasa, (25/82026), menyebut wilayah-wilayah yang terimbas konflik dan ketegangan geopolitik menghasilkan sekitar 45 juta barel minyak per hari pada 2025, atau lebih dari 43 persen produksi minyak dunia. Angka tersebut menggambarkan betapa besar porsi energi global yang kini bergantung pada kawasan yang menghadapi risiko perang, serangan terhadap infrastruktur energi, maupun gangguan jalur pelayaran.
Kondisi tersebut semakin memburuk sejak konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pecah sekitar enam bulan lalu. Gangguan produksi, pengolahan, dan distribusi minyak di Timur Tengah kemudian bertemu dengan persoalan lain di berbagai kawasan produsen energi, termasuk perang Rusia-Ukraina, gangguan terhadap fasilitas energi Kazakhstan, ketidakstabilan Libya, serta sanksi Amerika Serikat terhadap minyak Venezuela. Kombinasi berbagai persoalan itu membuat tekanan terhadap rantai pasok minyak dunia semakin kompleks.
Salah satu titik paling krusial berada di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk. Badan Energi Internasional atau IEA mencatat sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak setiap hari melintasi selat tersebut pada 2025. Jumlah itu setara sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut dunia, sehingga gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi langsung mengguncang pasar energi internasional.
Reuters melaporkan, arus pelayaran di Hormuz memang masih berlangsung, tetapi volumenya berada jauh di bawah kondisi sebelum perang. Ketidakpastian mengenai keamanan jalur tersebut membuat perusahaan energi dan pemilik kapal harus mencari rute alternatif, sementara negara-negara Teluk berupaya mengalihkan sebagian pengiriman agar tidak terlalu bergantung pada jalur yang berisiko tinggi.
Tekanan tidak hanya terjadi pada produksi dan pengiriman minyak mentah. Serangan Ukraina terhadap fasilitas pengilangan Rusia ikut mengurangi kapasitas pemrosesan minyak dunia. Rusia bahkan mengambil kebijakan pembatasan ekspor bensin dan solar ketika persediaan domestiknya mengalami tekanan. Situasi itu mempersempit pasokan produk olahan dan berpotensi membuat konsumen di berbagai negara harus menghadapi biaya energi yang lebih tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, Amerika Serikat menjadi salah satu sumber tambahan pasokan yang diandalkan untuk meredam kekurangan minyak. Namun, kemampuan tersebut juga tidak sepenuhnya bebas dari gangguan. Produksi minyak Amerika turut menghadapi hambatan akibat cuaca, sementara cadangan darurat minyak negara-negara konsumen terus terkuras setelah digunakan untuk menutup sebagian kekurangan pasokan global.
Persoalan cadangan menjadi perhatian serius. Menurut laporan Reuters, pelepasan cadangan minyak darurat yang dilakukan negara-negara melalui koordinasi IEA telah membantu menjaga pasokan, tetapi stok penyangga tersebut semakin menipis. Kondisi ini mempersempit ruang gerak pemerintah apabila terjadi gangguan baru yang lebih besar terhadap produksi maupun jalur distribusi minyak dunia.
Dampaknya mulai terasa pada struktur pasar energi dan tekanan inflasi. Gangguan pasokan, tingginya biaya pengangkutan, serta meningkatnya risiko geopolitik membuat harga bahan bakar dan produk energi lebih sulit diprediksi. Pasar memang sempat memperoleh ruang bernapas ketika arus minyak dari Timur Tengah meningkat dan harga minyak kembali mendekati level sebelum perang, tetapi risiko gangguan baru tetap membayangi.
Indonesia pun tidak sepenuhnya berada di luar pusaran gejolak tersebut. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 10 Agustus 2026, mencatat harga rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) Juli 2026 sebesar US$81,68 per barel, turun dari US$83,45 per barel pada Juni. Pemerintah menyebut membaiknya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dan pemulihan pasokan global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga minyak.
Namun, pemerintah Indonesia tetap memperhitungkan risiko eskalasi konflik. ESDM memproyeksikan ICP Agustus 2026 masih berada pada kisaran US$83 hingga US$87 per barel, bergantung pada perkembangan pasar global, risiko geopolitik, dan kondisi persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Pemerintah juga menegaskan pemantauan pasar internasional terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan energi nasional.
Krisis ini menunjukkan bahwa persoalan energi dunia tidak lagi semata-mata ditentukan oleh jumlah minyak yang diproduksi. Keamanan jalur pelayaran, kemampuan pengilangan, cadangan strategis, sanksi ekonomi, hingga konflik bersenjata kini saling berkaitan dan menentukan apakah minyak dapat sampai ke konsumen.
Dengan hampir separuh pasokan minyak dunia memiliki keterkaitan dengan kawasan konflik atau wilayah berisiko tinggi, setiap eskalasi baru di Timur Tengah maupun kawasan produsen lainnya dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan ekonomi global. Enam bulan perang Iran telah memperlihatkan satu kenyataan keras: “ketika jalur energi dunia terganggu, dampaknya tidak berhenti di medan perang, tetapi merembet ke harga bahan bakar, inflasi, industri, dan kehidupan masyarakat di berbagai negara”.(*)











