BREAKING

INTERNASIONAL

Uni Eropa Kucurkan Rp16 Triliun untuk Pemulihan Jalur Gaza

Uni Eropa luncurkan "Team Gaza Initiative" senilai US$1 miliar untuk rekonstruksi infrastruktur dasar di Gaza pascaperang.

SEANTERONEWS.com – Uni Eropa (UE) resmi mengumumkan peluncuran “Team Gaza Initiative”, sebuah program bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi senilai hampir 900 juta Euro atau sekitar 1 miliar Dolar AS (setara Rp16 triliun). Dana ini dialokasikan untuk mempercepat pemulihan infrastruktur dasar di Jalur Gaza yang porak-poranda akibat konflik selama lebih dari dua tahun.

Inisiatif tersebut diresmikan dalam pertemuan negara-negara donor di Brussels, Belgia, Senin (13/7/2026). Sejumlah negara besar seperti Spanyol, Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Belanda, Jepang, Swiss, dan Belgia turut bergabung dalam koalisi donor ini, bersama dengan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan Bank Investasi Eropa.

Komisioner Uni Eropa untuk Mediterania, Dubravka Suica, menegaskan bahwa paket bantuan ini merupakan langkah awal yang krusial untuk membangun kembali ketahanan masyarakat Palestina.

“Fokus awal kami adalah early recovery, yang meliputi perbaikan akses air bersih, sanitasi, pembersihan puing-puing bangunan, serta pemulihan fasilitas kesehatan, sektor energi, dan sistem pangan,” ujar Suica.

Namun, besaran dana 1 miliar Dolar AS tersebut diakui masih jauh dari kebutuhan ideal. Berdasarkan estimasi Uni Eropa dan PBB, Gaza membutuhkan setidaknya 71 miliar Dolar AS dalam satu dekade ke depan untuk pemulihan menyeluruh. Bahkan, laporan Gaza Rapid Damage and Needs Assessment (RDNA) menyebutkan kebutuhan mendesak sebesar 26,3 miliar Dolar AS hanya untuk 18 bulan pertama.

Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berjalan sejak Oktober tahun lalu, situasi di Gaza tetap memprihatinkan. Laporan mengenai pelanggaran gencatan senjata dan jatuhnya korban jiwa terus terjadi di tengah upaya rekonstruksi.

Komisioner Uni Eropa untuk Manajemen Krisis, Hadja Lahbib, menggambarkan kondisi di Gaza sebagai situasi yang “tidak tertahankan”. Ia menyoroti penyebaran penyakit dan terus berlanjutnya pengeboman sebagai hambatan utama bagi keberhasilan program rekonstruksi.

“Sembilan bulan setelah gencatan senjata, tantangan di lapangan masih sangat berat. Kami mendesak adanya akses kemanusiaan yang lebih luas dan keterlibatan politik yang lebih serius dari pihak Israel agar bantuan ini benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan,” tegas Lahbib.

Uni Eropa menekankan bahwa keberhasilan “Team Gaza Initiative” sangat bergantung pada stabilitas kondisi di lapangan. Tanpa adanya komitmen keamanan yang nyata dan akses yang tidak terhambat, upaya besar untuk membangun masa depan rakyat Palestina di Gaza akan terus menghadapi tantangan berat.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts