BREAKING

KESEHATAN

Transformasi Layanan Jantung Nasional, RS Harapan Kita Kini Berstandar Global

Kemenkes dan Tokushukai Jepang resmikan gedung baru RS Jantung Harapan Kita. Dilengkapi robot bedah canggih untuk layanan kelas dunia.

SEANTERONEWS.com – Kesehatan (Kemenkes) RI bersama RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita baru saja meresmikan topping off gedung baru “Harapan Kita Tokushukai”, Rabu (15/4/2026). Proyek megah ini merupakan hasil hibah senilai Rp1 triliun dari Tokushukai Group, Jepang.

Gedung yang digadang-gadang sebagai pusat kardiovaskular terbaik di kawasan ini adalah bukti nyata keberhasilan kolaborasi internasional yang telah terjalin sejak dua dekade lalu.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa gedung ini bukan sekadar bangunan fisik. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas pelayanan dan kompetensi tenaga medis.

“Mudah-mudahan yang tinggi bukan hanya gedungnya, tetapi juga ilmunya dan skill tenaga kesehatannya,” ujar Menkes Budi.

Fasilitas ini nantinya akan menjadi rumah bagi teknologi medis mutakhir. Salah satu yang paling dinanti adalah kehadiran robot bedah Da Vinci yang dijadwalkan beroperasi pada November 2026. Kehadiran teknologi ini diharapkan mampu bersaing dengan rumah sakit internasional di negara tetangga, bahkan Jepang, sehingga dapat menekan jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri.

Direktur Utama RS Jantung Harapan Kita, Iwan Dakota, memaparkan bahwa kapasitas tempat tidur akan melonjak drastis dari 400 menjadi 800 unit. Meski menawarkan fasilitas berkelas dunia, rumah sakit tetap memprioritaskan masyarakat luas.

“Kami tetap melayani mayoritas pasien JKN/BPJS dengan proporsi 70–80 persen,” jelas Iwan.

Selain menjadi pusat layanan klinis, gedung ini juga akan berfungsi sebagai pusat pendidikan dan kolaborasi riset internasional. Chairman Tokushukai Medical Group, Shinichi Higashiue, bahkan menargetkan pusat jantung ini untuk menjadi rujukan terbaik tidak hanya di Asia, tetapi juga di dunia.

Di balik kecanggihan infrastruktur, Menkes Budi tetap menekankan pentingnya langkah preventif. Penyakit jantung merupakan salah satu beban biaya BPJS Kesehatan terbesar. Oleh karena itu, Kemenkes terus mendorong penguatan deteksi dini di tingkat Puskesmas melalui penggunaan EKG dan terapi awal.

Dengan sinergi antara pencegahan di garda depan dan kecanggihan teknologi di pusat rujukan, Indonesia kini semakin mantap melangkah menuju transformasi layanan kesehatan yang lebih berkualitas, merata, dan berdaya saing global.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts