Banda Aceh – Persaingan penyediaan internet cepat di wilayah terpencil kini memasuki babak baru. Taara, proyek ambisius di bawah naungan Alphabet (induk perusahaan Google), memperkenalkan perangkat terbaru yang diklaim mampu mengirimkan data hingga kecepatan 20Gbps.
Uniknya, teknologi ini tidak menggunakan satelit seperti Starlink atau kabel serat optik bawah tanah, melainkan menggunakan pancaran cahaya atau Wireless Optical Communication (WOC).
Apa Itu Teknologi Taara?
Jika Starlink mengandalkan ribuan satelit di orbit rendah bumi, Taara bekerja dengan mengirimkan sinar cahaya inframerah yang sangat sempit dan presisi antara dua perangkat terminal. Bayangkan seperti kabel serat optik, namun tanpa kabel fisiknya.
Keunggulan utama teknologi “internet cahaya” ini: Kapasitas 25Gbps memungkinkan pengiriman data dalam jumlah masif secara instan, jauh melampaui rata-rata kecepatan satelit saat ini. Tidak perlu menggali tanah untuk menanam kabel atau meluncurkan roket ke luar angkasa. Sangat efektif untuk menghubungkan dua titik yang terpisah oleh jurang, sungai, atau wilayah perkotaan yang padat di mana penanaman kabel sulit dilakukan.
Menjawab Tantangan Cuaca dan Halangan
Salah satu kelemahan terbesar teknologi optik nirkabel di masa lalu adalah gangguan cuaca seperti kabut, hujan, atau bahkan burung yang terbang melintas. Namun, Taara mengeklaim telah menyempurnakan teknologi pelacakan (tracking) mereka.
Terminal Taara kini mampu menyesuaikan posisi cermin internalnya secara otomatis dalam hitungan milidetik untuk menjaga presisi laser. Jika koneksi terputus sesaat, sistem akan mencari jalur alternatif atau menyesuaikan transmisi agar data tetap sampai dengan aman.
Mengapa Ini Menjadi Ancaman Bagi Starlink?
Meskipun Starlink memiliki jangkauan global yang luas, biaya langganan dan perangkat kerasnya masih tergolong tinggi bagi sebagian pasar. Taara hadir sebagai solusi “jembatan” bagi penyedia layanan internet (ISP) lokal untuk memperluas jaringan mereka ke desa-desa tanpa investasi kabel yang mahal.
Strategi Taara bukanlah menggantikan satelit sepenuhnya, melainkan mengisi celah infrastruktur di bumi yang selama ini menjadi titik lemah distribusi internet cepat.
Implementasi di Dunia Nyata
Proyek Taara telah sukses diuji coba di berbagai wilayah, termasuk di Afrika melalui kerja sama dengan Liquid Intelligent Technologies. Di sana, Taara berhasil menghubungkan koneksi melintasi Sungai Kongo, menghubungkan dua kota besar (Brazzaville dan Kinshasa) yang sebelumnya sangat sulit dijangkau oleh kabel fisik karena arus sungai yang kuat.
Dengan kehadiran perangkat baru berkekuatan 20Gbps ini, harapan untuk pemerataan akses digital di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang memiliki banyak pulau dan pegunungan, menjadi semakin nyata.[]











