ALEPPO – Kabar terbaru terkait gencatan senjata mulai berlaku di kota Aleppo pada Jumat (9/1/2026), membawa harapan singkat bagi warga sipil setelah kekerasan mematikan mengguncang wilayah tersebut sejak awal pekan ini.
Kesepakatan ini muncul setelah serangkaian serangan udara dan pertempuran darat yang intensitasnya meningkat drastis sejak Selasa lalu. Laporan medis mengonfirmasi bahwa sedikitnya 22 orang telah tewas dalam kurun waktu empat hari terakhir.
Situasi di Aleppo memburuk sejak Selasa (6/1) ketika bentrokan antara kelompok bersenjata dan pasukan pemerintah kembali pecah.
Dari 22 korban tewas, sebagian besar dilaporkan adalah warga sipil, termasuk anak-anak yang terjebak di zona tempur.
Serangan tersebut juga menghancurkan beberapa fasilitas publik, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah ada.
Analis menyebutkan eskalasi ini merupakan yang paling berdarah di Aleppo sejak awal tahun 2026.
Meskipun detail mengenai durasi gencatan senjata masih dalam tahap negosiasi, langkah ini diambil untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah terdampak.
Tim penyelamat kini bergegas mengevakuasi korban luka yang terjebak di bawah reruntuhan atau di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Organisasi internasional berharap jendela gencatan senjata ini cukup lama untuk menyalurkan makanan dan obat-obatan.
Pihak-pihak terkait dilaporkan sedang melakukan pembicaraan di balik layar untuk mencegah gencatan senjata ini berakhir dalam hitungan jam.
Sejak Jumat pagi waktu setempat, suara dentuman artileri dilaporkan mulai mereda. Namun, suasana di Aleppo masih diselimuti ketegangan tinggi. Banyak warga yang masih enggan keluar rumah karena khawatir akan adanya serangan balasan yang mendadak.
“Kami hanya ingin bisa tidur tanpa suara ledakan. Gencatan senjata ini adalah napas bagi kami, tapi kami tidak tahu sampai kapan ini bertahan,” ujar seorang warga Aleppo kepada koresponden lapangan seanteronews.[]











