SEANTERONEWS.com – Sebuah pergeseran tak terduga terjadi di tengah krisis politik yang menyelimuti Venezuela. Pemimpin interim Venezuela yang didukung oleh koalisi oposisi dilaporkan mulai menurunkan nada kritiknya terhadap Amerika Serikat dan menyatakan kesiapan untuk bekerja sama secara intensif dengan Washington.
Perubahan sikap ini terjadi hanya beberapa saat setelah ketegangan antara kedua negara mencapai titik didih akibat intervensi militer AS yang berujung pada penahanan Nicolas Maduro.
Dalam pernyataan terbarunya, sang pemimpin interim menekankan pentingnya stabilitas nasional dan pemulihan ekonomi di atas perselisihan retoris. Langkah ini dipandang oleh para analis sebagai upaya untuk mengamankan dukungan internasional yang lebih luas guna mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan Maduro.
“Kami siap untuk berdialog secara konstruktif dengan Amerika Serikat demi kepentingan rakyat Venezuela. Prioritas kami adalah transisi yang damai dan pemulihan kedaulatan ekonomi,” ungkapnya.
Sikap melunak ini tidak lepas dari kritik. Beberapa faksi nasionalis di dalam negeri mengkhawatirkan bahwa kerja sama yang terlalu erat dengan AS akan membuat Venezuela menjadi “negara boneka”. Namun, dengan kondisi ekonomi yang hancur dan inflasi yang tak terkendali, bantuan dari Washington dipandang sebagai satu-satunya pelampung bagi pemerintahan transisi.
Perubahan nada ini juga mengirimkan pesan kuat kepada sekutu lama Venezuela, seperti Rusia dan Cina. Dengan merapatnya pemimpin interim ke Washington, pengaruh geopolitik Moskow dan Beijing di Amerika Latin terancam terkikis secara signifikan di tahun 2026 ini.
Dunia internasional kini menanti langkah konkret dari Gedung Putih apakah mereka akan menyambut tangan terbuka dari Caracas dengan pencabutan sanksi ekonomi, atau justru tetap mempertahankan tekanan militer hingga pemilu baru dilaksanakan.[]











