SEANTERONEWS.com – Kabar duka menyelimuti jagat politik Asia Selatan. Khaleda Zia, wanita pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Bangladesh dan sosok sentral dalam sejarah demokrasi negara tersebut, dilaporkan meninggal dunia pada usia 80 tahun pada Selasa (30/12/2025).
Wafatnya pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) ini menandai berakhirnya sebuah era bagi bangsa yang telah lama terbelah oleh rivalitas politik yang sengit.
Perjalanan hidup Khaleda Zia adalah potret keteguhan di tengah badai politik:
Ia terjun ke dunia politik setelah pembunuhan suaminya, Presiden Ziaur Rahman, pada tahun 1981.
Pada tahun 1991, ia mengukir sejarah sebagai perdana menteri wanita pertama di Bangladesh, memimpin negara tersebut keluar dari bayang-bayang pemerintahan militer.
Kepemimpinannya ditandai dengan persaingan legendaris selama puluhan tahun melawan Sheikh Hasina, yang dikenal dunia sebagai “The Battling Begums”.
Di masa senjanya, Khaleda Zia harus menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang serius di tengah statusnya sebagai tahanan politik. Ia menderita komplikasi penyakit liver, diabetes, dan jantung. Meskipun mendapatkan perawatan medis intensif, kondisi pahlawan demokrasi ini terus menurun dalam beberapa minggu terakhir.
Kepergian Khaleda Zia diprediksi akan menimbulkan guncangan besar bagi stabilitas politik Bangladesh. Para pendukung setianya di BNP kini menghadapi tantangan besar dalam menentukan arah kepemimpinan partai tanpa sosok ikonik mereka.
Pemerintah Bangladesh diperkirakan akan mengumumkan hari berkabung nasional untuk menghormati jasa-jasanya dalam membangun infrastruktur dan pendidikan, terutama bagi kaum perempuan di Bangladesh.
Terlepas dari berbagai kontroversi hukum yang menjeratnya di akhir hayat, Khaleda Zia tetap dikenang oleh jutaan orang sebagai simbol perlawanan terhadap otoritarianisme. Ia meninggalkan warisan transformasi ekonomi yang signifikan bagi Bangladesh pada masa-masa awal jabatannya.[]










