Oahu Dikepung Banjir Terparah, Bendungan Wahiawa Terancam Jebol

Negara bagian Hawaii, Amerika Serikat, tengah menghadapi krisis banjir bandang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Curah hujan ekstrem yang mengguyur sejak beberapa hari terakhir memaksa evakuasi massal di wilayah pesisir utara Pulau Oahu, dengan kerugian material diprediksi menembus angka $1 miliar (sekitar Rp15,8 triliun).
Departemen Manajemen Darurat Oahu mengeluarkan peringatan keras bagi warga di komunitas Waialua pada Sabtu (21/3/2026) dini hari. Otoritas mendesak ribuan penduduk untuk segera mengungsi sebelum akses jalan satu-satunya terputus total akibat terjangan air.
Gubernur Hawaii, Josh Green, melaporkan bahwa ketinggian air di beberapa lokasi telah mencapai setinggi dada orang dewasa. Sejauh ini, sekitar 5.500 warga telah diperintahkan untuk meninggalkan kediaman mereka.
Meskipun belum ada laporan korban jiwa, tim penyelamat gabungan telah berhasil mengevakuasi sedikitnya 200 orang dari kepungan air cokelat yang berlumpur. Namun, sepuluh orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami hipotermia setelah terjebak di tengah arus badai yang dingin.
“Kami telah mengevakuasi seluruh wilayah. Garda Nasional Hawaii telah dikerahkan sepenuhnya, termasuk bantuan pasukan dari pangkalan militer Schofield dan petugas Coast Guard untuk misi pencarian dan penyelamatan,” ujar Gubernur Green dalam pernyataan resminya.
Fokus utama kekhawatiran otoritas saat ini adalah kondisi Bendungan Wahiawa yang telah berusia 120 tahun. Bendungan bersejarah yang dibangun pada 1906 ini dinyatakan dalam status bahaya “kegagalan fatal” yang dapat mengancam nyawa banyak orang jika strukturnya runtuh.
Data teknis menunjukkan tingkat kenaikan air yang mengkhawatirkan:
Ketinggian Air: Meningkat dari 24 meter menjadi 25,6 meter hanya dalam waktu singkat.
Kapasitas Sisa: Hanya tersisa 1,8 meter sebelum air meluap melampaui batas maksimal bendungan.
Bendungan milik raksasa pangan Dole Food Company ini telah lama menjadi sorotan karena masalah pemeliharaan. Sejak 2009, perusahaan tersebut telah menerima empat teguran terkait defisiensi struktur, bahkan sempat didenda pada 2021 karena gagal menjaga keamanan pintu tumpahan air (spillway). Meski pihak Dole mengklaim bendungan masih beroperasi sesuai desain, pemerintah Hawaii tengah berupaya merampungkan proses akuisisi aset tersebut guna perbaikan total.
Wali Kota Honolulu, Rick Blangiardi, menyebut dampak banjir kali ini sebagai peristiwa “katastropik”. Ratusan rumah dilaporkan rusak parah, namun pendataan menyeluruh belum bisa dilakukan karena cuaca buruk masih bertahan.
“Tidak ada keraguan bahwa kerusakan yang terjadi sejauh ini sangat menghancurkan. Masalahnya, Oahu diprediksi masih akan menerima tambahan curah hujan sebesar 15 hingga 20 cm dalam beberapa hari ke depan,” tutur Blangiardi.
Situasi ini merupakan yang terburuk sejak banjir besar melanda wilayah Manoa pada tahun 2004 silam. Warga diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi arahan petugas di lapangan mengingat kondisi tanah yang semakin jenuh dan risiko luapan air susulan yang masih sangat tinggi.[]