Militer Myanmar Akui Serangan Udara ke Rumah Sakit di Rakhine: 33 Tewas, PBB Desak Investigasi Kejahatan Perang

SEANTERONEWS.com – Militer Myanmar secara mengejutkan mengakui telah melancarkan serangan udara ke sebuah rumah sakit umum di Mrauk U, Negara Bagian Rakhine, yang menyebabkan sedikitnya 33 orang tewas. Pengakuan ini segera diikuti dengan pembelaan kontroversial, pihak militer mengklaim bahwa kelompok oposisi bersenjata menjadikan fasilitas medis tersebut sebagai basis operasional mereka.
Insiden brutal ini, yang merenggut nyawa tenaga medis, pasien, dan anggota keluarga, telah memicu kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi kemanusiaan, yang mendesak penyelidikan atas tuduhan kejahatan perang.
Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan oleh surat kabar negara, militer Myanmar (Tatmadaw) menyatakan bahwa serangan yang terjadi pada Rabu lalu itu adalah “tindakan keamanan yang diperlukan” dan “operasi kontra-terorisme.”
Militer menuduh bahwa kelompok-kelompok bersenjata anti-pemerintah, termasuk Arakan Army (AA) dan People’s Defence Force (PDF), telah menggunakan Rumah Sakit Umum Mrauk-U sebagai markas mereka. Mereka bersikeras bahwa korban tewas adalah anggota kelompok bersenjata dan pendukungnya, bukan warga sipil biasa.
Klaim militer ini dibantah keras oleh saksi mata, pekerja bantuan, dan kelompok pemberontak. PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutuk serangan tersebut dalam istilah yang paling keras.
Pernyataan PBB: Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, mengutuk serangan itu dan menuntut penyelidikan segera. Ia menegaskan, “Serangan semacam itu dapat dianggap sebagai kejahatan perang. Saya menyerukan penyelidikan dan agar mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.”
Data Korban WHO: Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa setidaknya 33 orang tewas, termasuk petugas kesehatan dan pasien. Infrastruktur rumah sakit, termasuk ruang operasi dan bangsal utama, dilaporkan hancur total.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di Negara Bagian Rakhine, di mana Arakan Army (AA) telah melancarkan serangan besar-besaran sejak November 2023, merebut sejumlah wilayah strategis.
Analis melihat bahwa peningkatan serangan udara oleh militer Myanmar ini dilakukan menjelang pemilihan umum yang direncanakan pada akhir Desember. Pihak oposisi menuduh bahwa pemilu ini hanyalah upaya militer untuk melegitimasi kekuasaan mereka pasca kudeta tahun 2021. Kekerasan yang terus meningkat ini semakin menjerumuskan Myanmar ke dalam situasi perang saudara yang mematikan.[]