Subuh di Baiturrahman, Lemhannas dan Polda Aceh Rajut Damai

BANDA ACEH – Suasana fajar di jantung ibu kota Provinsi Aceh diselimuti keheningan spiritual yang sarat nilai kebangsaan. Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Dr. Latif Usman bersama jajaran Pejabat Utama (PJU) Polda Aceh dan Kapolresta Banda Aceh mendampingi Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. Ace Hasan Syadzily, beserta rombongan dalam ibadah salat Subuh berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Selasa (3/11/2026).
Ibadah fajar di masjid bersejarah kebanggaan masyarakat Aceh tersebut berlangsung dalam atmosfer khidmat dan sarat keakraban. Selain menjadi sarana pemenuhan kewajiban ibadah harian, agenda spiritual ini dimaksimalkan sebagai wadah perekat kemitraan strategis antara jajaran aparatur kepolisian, pemangku kebijakan ketahanan negara, alim ulama, dan warga masyarakat melalui pendekatan kultural keagamaan.
Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto menuturkan bahwa seusai doa bersama, momentum tersebut diisi dengan kultum (tausiah) subuh yang disampaikan langsung oleh orang nomor satu di Lemhannas RI tersebut.
Dalam untaian tausiahnya, Dr. Ace Hasan Syadzily mengajak seluruh jemaah untuk mempertebal rasa syukur atas segala limpahan karunia, stabilitas, dan iklim damai yang kini menaungi Tanah Rencong. Ia menggarisbawahi bahwa ketahanan nasional yang sejati berakar dari keteguhan moral masyarakat dalam merawat keutuhan dan integrasi bangsa dengan berpedoman pada ajaran agama serta keteladanan budi pekerti Nabi Muhammad SAW.
Inspirasi Peradaban Madinah untuk Kohesi Bangsa
Ace Hasan secara khusus mengajak jemaah untuk merefleksikan jejak sejarah kepemimpinan Rasulullah SAW saat merajut tatanan sosial masyarakat Madinah. Kala itu, kota Madinah dihuni oleh kelompok masyarakat dengan keragaman suku, keyakinan, dan latar belakang yang sangat kompleks.
“Melalui kepemimpinan yang berlandaskan amanah, keadilan hukum, dan kebijaksanaan, Rasulullah SAW berhasil menyatukan perbedaan ke dalam satu ikatan persaudaraan yang kokoh, sekaligus menciptakan tatanan hidup bersama yang aman, damai, dan berkeadilan,” urai Joko mengutip sari tausiah Gubernur Lemhannas.
Nilai historis tersebut dipandang relevan dalam membentengi persatuan bangsa Indonesia dari berbagai potensi polarisasi dan gesekan sosial di era kekinian.
Apresiasi Gerakan Subuh Keliling dan Pendekatan Humanis Polri
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lemhannas RI turut mengutarakan apresiasi tingginya terhadap jajaran Polda Aceh yang konsisten mendekatkan diri kepada publik lewat jalur-jalur kultural, salah satunya melalui program Subuh Keliling (Suling).
Inisiatif jemput bola ini dinilai efektif meruntuhkan sekat formalitas birokrasi, mencairkan komunikasi antara penegak hukum dengan warga, serta memupuk kembali legitimasi dan rasa percaya (public trust) masyarakat terhadap institusi bhayangkara.
Polda Aceh diharapkan senantiasa memelihara konsistensi kehadiran di garda terdepan masyarakat. Peran kepolisian tidak semata-mata diukur dari ketegasan dalam menegakkan hukum dan menjaga ketertiban lalu lintas, melainkan tercermin dari kemampuannya menampilkan wajah pengayom yang humanis, empatik, serta memberikan kemanfaatan sosial yang nyata bagi kesejahteraan warga Serambi Mekkah.[]