Warisan Bangsa, Janji Generasi – SDA Untuk Rakyat, Selamanya

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Oleh : REM Institute

JAKARTA – Indonesia bukan negeri yang miskin. Tanahnya menghasilkan pangan, lautnya menyimpan sumber kehidupan, hutannya menjaga keseimbangan alam, sementara perkebunan dan kekayaan mineral menjadi modal penting bagi industri dan perekonomian. Namun, kekayaan alam tidak dengan sendirinya menjadikan rakyat sejahtera. Sejarah mengingatkan bahwa sumber daya yang dikelola tanpa tanggung jawab dapat meninggalkan ketimpangan, kerusakan lingkungan, bahkan menghilangkan kesempatan bagi generasi berikutnya. Kesalahan seperti itu tidak boleh terus berulang. Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 telah memberikan arah yang jelas: kekayaan alam harus dikelola untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dari prinsip inilah perjuangan membangun Indonesia yang kuat, mandiri, adil, dan mampu menjaga masa depannya harus terus dijalankan.

Alif Towew: Ketika Angka Membuka Mata Bangsa

Mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan rasa bangga. Kecintaan kepada negeri juga membutuhkan keberanian untuk memahami persoalannya melalui ilmu pengetahuan. Alif Hijriah, yang dikenal sebagai Alif Towew dan merupakan lulusan Matematika ITB, memperlihatkan bagaimana angka dan perhitungan dapat membantu masyarakat melihat persoalan sumber daya alam secara lebih jernih. Dalam tulisannya Suka Makan Gorengan? 847 Ribu Hektare Kebun Sawit untuk Minyak Gorengnya!, ia memulai dari pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: berapa luas lahan sawit yang sebenarnya dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi minyak goreng rumah tangga Indonesia? Dari pertanyaan sederhana itu, ia menyusun perhitungan yang membuka perspektif lebih luas mengenai kebutuhan, produktivitas, dan skala pemanfaatan sumber daya.

Alif menggunakan angka konsumsi minyak goreng sawit sebesar 9,56 kilogram per orang per tahun serta jumlah penduduk Indonesia pada pertengahan 2023 sebanyak 278,69 juta jiwa. Dari perkalian kedua angka tersebut, diperoleh perkiraan kebutuhan minyak goreng rumah tangga nasional sekitar 2,66 juta ton per tahun. Selanjutnya, produksi CPO atau minyak sawit mentah sebesar 50,07 juta ton dibandingkan dengan luas perkebunan 15,93 juta hektare pada 2023. Dari perhitungan itu diperoleh produktivitas rata-rata sekitar 3,14 ton CPO per hektare per tahun. Ketika kebutuhan minyak goreng dibandingkan dengan produktivitas tersebut, muncul perkiraan kebutuhan lahan sekitar 847.134 hektare atau sekitar 847 ribu hektare.

Jika dibandingkan dengan luas perkebunan sawit sebesar 15,93 juta hektare yang digunakan dalam analisis tersebut, angka 847 ribu hektare menunjukkan perbandingan sekitar 18,8 kali. Artinya, kebutuhan minyak goreng rumah tangga hanya menggambarkan sebagian dari keseluruhan pemanfaatan lahan sawit. Alif kemudian memperluas perhitungannya dengan melihat kebutuhan domestik untuk pangan, oleokimia, dan biodiesel. Berdasarkan data GAPKI 2023 yang digunakannya, kebutuhan domestik tersebut mencapai 22,23 juta ton. Dengan menggunakan produktivitas rata-rata yang sama, kebutuhan lahannya diperkirakan sekitar 7 juta hektare. Angka-angka tersebut tentu bersifat ilustratif, bukan pembagian lahan yang bersifat pasti, karena CPO tidak sama persis dengan minyak goreng siap pakai dan produktivitas setiap kebun dapat berbeda. Namun, justru di situlah pesan pentingnya: kebijakan sumber daya alam harus dibangun dari pemahaman yang utuh, perhitungan yang cermat, dan data yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dari kesimpulan yang tergesa-gesa.

Dalam paparan berikutnya, Lahan Sawit Diganti Sunflower Justru Butuh 128 Juta Hektare!, Alif membandingkan produktivitas sawit dengan bunga matahari. Berdasarkan angka yang digunakannya, sawit menghasilkan sekitar 3,06 ton minyak per hektare, sedangkan bunga matahari sekitar 0,7 ton per hektare. Untuk menggambarkan perbedaan skalanya, ia menghitung kebutuhan lahan untuk menghasilkan 90 juta ton minyak nabati. Dengan produktivitas sawit, kebutuhan lahan diperkirakan sekitar 29,4 juta hektare, sedangkan dengan produktivitas bunga matahari mencapai sekitar 128,6 juta hektare. Perbandingan tersebut bukan berarti sawit bebas dari persoalan lingkungan. Sebaliknya, angka itu menunjukkan bahwa produktivitas merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhitungkan ketika sebuah negara menentukan pilihan. Perlindungan alam harus berjalan berdampingan dengan ilmu pengetahuan, pengawasan, teknologi, dan tata kelola yang bertanggung jawab.

Dari Minyak Jelantah Menjadi Peluang Energi

Persoalan sumber daya alam juga dapat dilihat dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah. Alif mengangkat peluang minyak jelantah yang setelah digunakan untuk menggoreng sering kali dibuang begitu saja. Padahal, minyak jelantah berpotensi menjadi bahan baku sustainable aviation fuel atau SAF, yaitu bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Dalam simulasinya, potensi minyak jelantah Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 3–4 juta kiloliter per tahun. Dengan menggunakan batas atas sebesar 4 juta kiloliter dan massa jenis sekitar 931 kilogram per meter kubik, volume tersebut setara dengan sekitar 3,7 juta ton minyak jelantah. Jika dibutuhkan sekitar 1,2 ton minyak jelantah untuk menghasilkan 1 ton avtur, maka secara matematis dapat diperoleh sekitar 3 juta ton avtur atau kurang lebih 3,8 juta kiloliter.

Perkiraan itu kemudian dibandingkan dengan kebutuhan avtur nasional sekitar 14.000 kiloliter per hari atau sekitar 5,11 juta kiloliter per tahun. Dengan asumsi tersebut, potensi 3,8 juta kiloliter setara dengan sekitar 79,3 persen kebutuhan tahunan yang digunakan dalam simulasi. Jika menggunakan asumsi harga Rp12.265 per liter, nilai penjualan kotornya diperkirakan mencapai sekitar Rp46,6 triliun. Angka tersebut tetap harus dibaca sebagai simulasi potensi, bukan pendapatan yang telah terealisasi atau jaminan bahwa seluruh kebutuhan avtur dapat digantikan. Realisasinya bergantung pada kemampuan mengumpulkan jelantah, teknologi pengolahan, biaya produksi, standar bahan bakar, infrastruktur, serta kelayakan ekonomi.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa membangun kekuatan nasional tidak selalu berarti mengambil lebih banyak dari alam. Kemajuan juga dapat lahir dari kemampuan mengubah sesuatu yang selama ini terbuang menjadi sumber nilai baru. Minyak jelantah dapat membuka peluang usaha pengumpulan dan pengolahan, mendukung industri energi, sekaligus mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. Pengembangan SAF berbasis minyak jelantah juga telah memasuki tahap nyata melalui pengujian dan pengembangan oleh Pertamina, meskipun kapasitas pengumpulan, pengolahan, dan pemanfaatannya masih perlu terus diperluas.

Jika tiga perhitungan tersebut dilihat secara utuh, terdapat satu benang merah yang kuat: memahami kebutuhan, mengukur produktivitas, lalu menemukan nilai baru dari sumber daya yang tersedia. Cara berpikir semacam inilah yang perlu diperkuat di Indonesia. Kekayaan alam harus dibaca melalui data, dikelola dengan kebijaksanaan, dan dikembangkan dengan ilmu pengetahuan agar menghasilkan manfaat sebesar-besarnya tanpa mengorbankan lingkungan maupun hak generasi mendatang.

Presiden Prabowo dan Keberanian Memperjuangkan Kepentingan Nasional

Arah pembangunan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto menempatkan hilirisasi sebagai salah satu agenda penting. Melalui pengolahan sumber daya di dalam negeri, Indonesia didorong untuk tidak terus bergantung pada penjualan bahan mentah, tetapi meningkatkan nilai tambah melalui industri, memperkuat penguasaan teknologi, membuka lapangan kerja, dan memperbesar manfaat ekonomi bagi rakyat. Presiden juga berulang kali menegaskan pentingnya mengelola kekayaan nasional untuk kepentingan masyarakat serta memperbaiki tata kelola agar nilai ekonomi sumber daya Indonesia tidak lebih banyak mengalir keluar tanpa memberikan manfaat yang sepadan bagi bangsa.

Keberanian memperjuangkan kepentingan nasional patut didukung ketika arah kebijakan benar-benar ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Namun, hilirisasi harus dibuktikan melalui hasil yang dapat dirasakan. Industri nasional harus semakin kuat, tenaga kerja semakin terampil, usaha lokal semakin berkembang, lingkungan tetap terlindungi, dan masyarakat di daerah penghasil memperoleh manfaat secara adil. Pembangunan tidak cukup terlihat besar di atas kertas; keberhasilannya harus hadir dalam kehidupan masyarakat.

Dukungan kepada Presiden Prabowo dalam memperjuangkan kepentingan nasional juga perlu berjalan bersama kepedulian publik untuk memastikan setiap kebijakan dilaksanakan secara transparan, bertanggung jawab, dan sesuai dengan tujuan. Di sinilah hitungan Alif dan arah kebijakan Presiden Prabowo dapat saling melengkapi. Data membantu masyarakat memahami pilihan beserta konsekuensinya. Kebijakan membuka jalan bagi penciptaan nilai tambah. Pengawasan memastikan manfaat pembangunan tetap berada dalam koridor kepentingan rakyat.

Siapa pun yang memimpin Indonesia pada masa mendatang, prinsip tersebut harus tetap menjadi pegangan. Membela sumber daya alam berarti membela hak seluruh rakyat Indonesia untuk memperoleh manfaat darinya. Pada saat yang sama, kekayaan tersebut harus dijaga agar tidak habis karena keputusan yang hanya mengejar keuntungan sesaat. Kepentingan nasional bukan sekadar soal siapa yang menguasai sumber daya, tetapi tentang bagaimana sumber daya itu diolah menjadi kekuatan ekonomi, kesejahteraan sosial, kemandirian teknologi, dan ketahanan bangsa.

Generasi Muda: Bela Negara dengan Ilmu, Keberanian, dan Kerja Nyata

Kepada generasi muda Indonesia, masa depan negeri ini bukan sekadar sesuatu yang akan datang. Masa depan sedang dibentuk melalui keputusan yang dibuat hari ini. Hutan yang dijaga, laut yang dilindungi, teknologi yang dikembangkan, industri yang dibangun, serta anggaran yang dikelola secara bertanggung jawab akan menentukan kualitas hidup generasi berikutnya. Bela negara tidak hanya berlangsung di garis pertahanan. Ia juga hadir ketika anak muda belajar dengan sungguh-sungguh, menciptakan inovasi, bekerja dengan jujur, melindungi lingkungan, dan berani menyampaikan kebenaran demi kepentingan masyarakat.

Jangan hanya menjadi generasi yang bangga karena Indonesia kaya. Jadilah generasi yang memahami bagaimana kekayaan itu dikembangkan, ditingkatkan nilainya, dan manfaatnya diperluas kepada seluruh rakyat. Pelajar perlu berani bertanya. Mahasiswa perlu berani meneliti. Calon ilmuwan dan insinyur perlu berani menciptakan teknologi. Wirausahawan muda perlu berani membangun usaha yang produktif. Bangsa besar tidak lahir dari generasi yang hanya menunggu kesempatan, melainkan dari generasi yang mempersiapkan diri, menciptakan kesempatan, dan menggunakan kemampuannya untuk memperkuat bangsanya.

Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu agar tidak kembali mengulang pola pengelolaan yang mengabaikan kepentingan rakyat dan kelestarian alam. Kita juga harus berani mendukung kebijakan yang sungguh-sungguh memperkuat Indonesia, tanpa kehilangan keberanian untuk mengawasi, mengkritisi, dan memperbaikinya. Dukungan kepada seorang pemimpin tidak boleh berhenti pada sosok atau jabatan. Dukungan yang lebih penting adalah terhadap cita-cita yang jauh lebih panjang: Indonesia yang berdaulat, rakyat yang sejahtera, lingkungan yang terjaga, dan kekayaan alam yang tetap mampu memberi kehidupan bagi generasi mendatang.

Warisan terbesar Indonesia bukan hanya apa yang tersimpan di dalam bumi, melainkan apa yang mampu dibangun dari kekayaan tersebut. Ilmu pengetahuan yang berkembang, industri yang mandiri, teknologi yang dikuasai, lingkungan yang terjaga, masyarakat yang sejahtera, dan generasi yang siap meneruskan perjuangan merupakan warisan yang jauh lebih berharga. Hitungan Alif mengajarkan pentingnya berpikir jernih dan berbasis data. Arah hilirisasi Presiden Prabowo menegaskan pentingnya meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Generasi muda memiliki tugas untuk membawa semangat tersebut melampaui satu masa kepemimpinan, agar perjuangan membela kepentingan seluruh rakyat Indonesia terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bangkitlah, generasi muda Indonesia. Kuasai ilmu, berani menciptakan perubahan, jaga kekayaan alam, dan perjuangkan kesejahteraan rakyat. Dukung keberanian setiap pemimpin yang sungguh-sungguh membela kepentingan nasional, sekaligus pastikan kekuasaan selalu bertanggung jawab kepada bangsa. Jangan biarkan kesalahan masa lalu menentukan masa depan kita. Sumber daya alam adalah kekayaan bersama; menjaganya adalah bentuk bela negara, mengembangkannya adalah kerja kebangsaan, dan mewariskannya dalam keadaan yang lebih baik adalah janji kita kepada generasi berikutnya.

“Indonesia harus dibangun, dijaga, dan dibela — hari ini, esok, dan selamanya”