Solar Subsidi Membaik, Pengamat Apresiasi Kapolda Aceh

BANDA ACEH – Angin segar dirasakan para pengguna kendaraan bermesin diesel dan pelaku sektor logistik di Provinsi Aceh. Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mulai dari koridor barat selatan (barsela) hingga lintas timur dan tengah Aceh terpantau kian stabil serta mencukupi kebutuhan mobilitas masyarakat.
Kondisi kondusif ini mendapat sorotan positif dari akademisi sekaligus Pengamat Kebijakan Publik Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Nazrul Zaman. Ia menilai, melandainya antrean kendaraan di area pompa pengisian bahan bakar menjadi indikator konkret adanya perbaikan nyata dalam rantai distribusi energi bersubsidi di daerah.
“Saat ini mobilitas lintas daerah menggunakan mobil diesel di sekeliling Aceh terasa jauh lebih tenang dan nyaman. Pengendara mulai dengan mudah mendapati pasokan solar yang cukup di SPBU sepanjang rute perjalanan tanpa harus waswas kehabisan stok,” ungkap Nazrul di Banda Aceh, Senin (26/10/2026).
Capaian Tiga Bulan Kepemimpinan Kapolda
Nazrul mencatat, progres di lapangan ini menjadi torehan prestasi tersendiri bagi Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ruddi Setiawan, yang baru mengemban amanah memimpin korps bhayangkara di Tanah Rencong selama kurang lebih tiga bulan.
Penertiban terpadu dan operasi pengawasan ketat yang digelar jajaran kepolisian dinilai berhasil mendisiplinkan alur distribusi BBM subsidi yang selama ini kerap diwarnai kebocoran.
Menurut Nazrul, tolok ukur kesuksesan seorang pemangku kebijakan publik terletak pada efektivitasnya menuntaskan sengkarut masalah mendasar warga, bukan sebatas retorika atau agenda seremonial belaka.
“Bagi masyarakat umum, kapasitas kepemimpinan diuji dari seberapa tuntas problem riil dapat diselesaikan. Ketika sopir logistik dan warga tidak lagi dihantui kepanikan antrean panjang solar berjam-jam, di situlah buah kepemimpinan yang berpihak pada rakyat dirasakan secara langsung,” tegasnya.
Jangan Beri Ruang Gerak bagi Mafia Migas
Kendati mengapresiasi kemajuan yang ada, pengamat jebolan USK ini mengingatkan aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk tidak cepat berpuas diri. Pasokan solar yang mulai normal harus dijaga konsistensinya agar tidak bersifat musiman atau sekadar membaik di wilayah perkotaan tertentu.
Nazrul menekankan bahwa pengawasan rantai pasok dari depo Pertamina hingga dispenser SPBU harus dipertahankan secara berkelanjutan. Deteksi dini terhadap praktik spekulan dan pemburu rente subsidi minyak wajib dilakukan secara berkala.
“Ruang gerak mafia BBM subsidi harus benar-benar ditutup rapat. Jangan biarkan ada oknum yang menimbun pasokan, memanipulasi tangki kendaraan, atau menjual kuota rakyat miskin ke sektor industri. Bila ditemukan indikasi penyelewengan, sanksi pidana harus diterapkan secara transparan, profesional, dan tanpa kompromi,” tambahnya.
Mengakhiri pandangannya, Nazrul mendoakan agar Kapolda Aceh senantiasa dianugerahi keteguhan moral dan kesehatan dalam mengawal kepentingan masyarakat luas. Ia turut mengajak publik untuk ikut aktif menjadi mata dan telinga aparat kepolisian, sehingga jaminan ketersediaan energi yang adil dan tepat sasaran di Aceh dapat terpelihara dalam jangka panjang.[]