Di Bawah Rindang Pohon Sejarah: Denyut Seni Mahasiswa USK yang Tak Pernah Padam

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Di antara riuhnya aktivitas Gedung AAC Dayan Dawood, Kantin USK, KCP Bank Syariah Indonesia (BSI), serta deretan ATM, berdiri kokoh sebuah pohon besar nan rindang. Pohon berpagar ini bukan sekadar peneduh dari terik matahari, melainkan sebuah episentrum kreativitas yang mempertemukan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) dari zaman ke zaman.

Bagi civitas akademika USK, tempat ini adalah ruang multi-dimensi. Dari pagi hingga sore hari, area di sekitar pohon ini berdenyut sebagai kantin tempat melepas penat dan mengisi perut. Namun, begitu matahari tergelincir ke barat, suasana bertransformasi total. Hari libur dan waktu sore hingga malam mengubah tempat sederhana ini menjadi panggung terbuka tanpa nama.

Di sinilah, di bawah naungan dedaunan rindang, bakat-bakat besar mahasiswa USK lahir dan dibentuk. Suara hentakan Rapai, lantunan puisi yang menggelegar, dialog teater yang emosional, liukan gerak tari tradisional, hingga modern dance dan musik rap berbaur menjadi satu simfoni. Saat musim festival kampus tiba, panggung terbuka ini kerap penuh sesak. Ruang latihan meluber hingga ke teras samping kantin, bahkan mengisi sudut-sudut gang sempit di Gedung AAC Dayan Dawood.

Menariknya, ruang kreativitas yang hidup ini berdiri berdampingan secara harmonis dengan situs sejarah yang khusyuk. Tepat di bawah naungan pohon tersebut, terdapat sebuah situs makam peninggalan masa lalu. Sebuah prasasti di sana mengabadikan pesan: “Di tempat ini disemayamkan para ulama yang menyebarkan Islam di Aceh Besar.” Ada lima nama yang terpahat sebagai pengingat sejarah: H. Achmad Qasturi (1316-1389), Tgk. Malem Panyang (1337-1339), Datok Nafi, Muda Selangor, dan Abu Said. Kehadiran makam ini seolah memberi restu spiritual bagi generasi muda yang sedang merajut masa depan di atas tanah sejarah.

Namun, waktu membawa perubahan. Jika dahulu mahasiswa lintas program studi bisa memacu kreativitas dan berlatih hingga larut malam, kini dinamika itu harus menyesuaikan diri dengan aturan baru. Demi alasan keamanan—terutama bagi mahasiswi—aktivitas malam kini dibatasi ketat dan wajib berakhir sebelum pukul 23.00 WIB. Ada romantisme masa lalu yang sedikit tergerus oleh sekat aturan, namun semangat yang ada di sana tidak pernah benar-benar padam.

Meski panggung terbuka ini tidak memiliki nama resmi di papan penunjuk arah kampus, ia punya tempat abadi di hati para mahasiswa. Ruang ini telah melahirkan momentum-momentum besar yang nantinya dipentaskan di panggung-panggung megah. Sebuah tempat yang ringkas, sederhana, namun kaya akan memori.

Maka, setiap kali ada pertanyaan klasik terdengar, “Kalian latihan di mana?”, jawaban yang meluncur hampir selalu sama dan sarat akan kehangatan: “Di belakang/samping AAC aja.” Sebuah kalimat pendek yang merangkum sebuah rumah bagi kreativitas, semangat, dan sejarah yang terus bertumbuh di jantung USK.(*)