Integrasikan Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi: InfraNexia dan CCSI-KD Matangkan Proyek Kabel Laut SKKL SUB-2

JAKARTA – Penguatan tulang punggung konektivitas digital nasional terus dipacu seiring melonjaknya arus lalu lintas data antarpulau. Menjawab tantangan tersebut, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) perusahaan pengelola infrastruktur digital di bawah naungan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi memperkokoh aliansi strategis bersama PT CCSI Konektivitas Digital (CCSI-KD) untuk menggarap megaproyek Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) SUB-2.
Langkah maju ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan (BAK) yang dilangsungkan di Bali oleh Direktur Planning InfraNexia, Ronny Arnaz, bersama Direktur Utama CCSI-KD, Peter Djatmiko.
Kesepakatan bilateral ini merupakan akselerasi lanjutan dari komitmen kedua korporasi dalam menggelar bentangan kabel optik bawah laut yang dirancang khusus untuk menghubungkan tiga pulau ekonomi strategis: Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Kehadiran rute kabel laut ini diharapkan mampu mengikis disparitas kapasitas jaringan serta menjamin kestabilan transfer data berkecepatan tinggi di koridor tengah dan barat Indonesia.
Direktur Planning InfraNexia Ronny Arnaz memaparkan bahwa ledakan konsumsi layanan komputasi awan, kecerdasan buatan, dan konten multimedia menuntut kesiapan infrastruktur fisik transmisi data yang berdaya tahan tinggi serta memiliki perencanaan jangka panjang.
“Ekskalasi kebutuhan data dan ekspansi ekosistem digital nasional harus ditopang oleh fondasi transmisi yang andal. Melalui pengembangan proyek SKKL SUB-2 bersama CCSI-KD, kami ingin memastikan kesiapan kapasitas bandwidth yang masif guna membuka ruang pertumbuhan ekonomi digital yang lebih inklusif bagi seluruh pelaku industri,” ujar Ronny dalam rilis pers resminya, Selasa (29/9/2026).
Bentuk Komite Manajemen Interim
Sebagai tindak lanjut dari pengesahan BAK tersebut, InfraNexia dan CCSI-KD langsung melangkah ke tahapan teknokratis. Kedua entitas tengah mematangkan integrasi parameter teknis rute laut, kalkulasi model komersial yang kompetitif, hingga perumusan perjanjian definitif (definitive agreement).
Guna menjamin eksekusi lapangan berjalan tepat waktu dan patuh terhadap tata kelola korporasi, kedua pihak bersepakat membentuk Komite Manajemen Interim (KMI). Organ kerja bersama ini akan memegang mandat pengawasan, sinkronisasi operasional, serta pengawalan seluruh fase persiapan hingga masa konstruksi dimulai.
Mendukung Tulang Punggung Telekomunikasi Nasional
Bagi InfraNexia, keterlibatan dalam SKKL SUB-2 menegaskan perannya sebagai penyedia infrastruktur netral yang terbuka bagi ekosistem telekomunikasi nasional. Keberadaan jalur kabel laut ini tidak hanya melayani kebutuhan internal grup, namun disiapkan sebagai aset bersama yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai operator telekomunikasi, penyedia jasa internet (ISP), hingga korporasi penyedia pusat data (data center).
“Kami memandang pembangunan SKKL SUB-2 bukan semata pengadaan sarana fisik, melainkan ikhtiar memperkuat ketahanan interkoneksi antardaerah di Indonesia. Dengan memadukan kompetensi teknis dan portofolio kedua entitas, kami optimis kolaborasi ini memberikan dampak jangka panjang bagi pemerataan akses digital Nusantara,” tutup Ronny.[]