Pembunuhan Ulama Sunni di Iran Picu Kekhawatiran Sektarian

SEANTERONEWS.com – Gelombang kekerasan bersenjata yang menyasar figur pemuka agama minoritas kembali mengguncang stabilitas domestik Iran. Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, dua ulama Sunni terkemuka dilaporkan tewas dibunuh oleh penyerang misterius di dua wilayah terpisah: Provinsi Sistan-Baluchestan di tenggara dan Provinsi Azerbaijan Barat di barat laut.
Rangkaian penembakan berdarah ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai potensi menyulutnya ketegangan antarkomunitas di daerah-daerah perbatasan yang selama ini rentan terhadap gesekan sosial dan aktivitas kelompok separatis.
Insiden termutakhir menimpa Molavi Yousef Gorgij, seorang ulama terpandang dari komunitas etnis Baluch. Ia tewas ditembak oleh orang tak dikenal di luar kediaman pribadinya di Kota Zahedan, Provinsi Sistan-Baluchestan, pada Senin (14/9/2026).
Mengutip pernyataan resmi Gubernur Zahedan, Jamshid Rokhshani Nasab, kantor berita pemerintah IRNA membenarkan bahwa Gorgij mengembuskan napas terakhir sesaat setelah dihujani tembakan di dekat rumahnya. Almarhum selama ini dikenal sebagai sosok moderat yang mendukung kohesi sosial, menolak narasi polarisasi, serta kerap menyuarakan kritik terhadap pengaruh kekuatan asing.
Merespons pembunuhan tersebut, media pemerintah Iran, Mehr News, menuding aksi itu didalangi oleh jaringan bayaran pro-Israel. Namun, otoritas keamanan belum merilis bukti forensik materiil yang memperkuat klaim tersebut, sementara belum ada entitas bersenjata yang menyatakan bertanggung jawab.
Berselang Lima Hari dari Kasus di Azerbaijan Barat
Tragedi di Zahedan bergulir hanya lima hari pascatewasnya tokoh agama Sunni etnis Kurdi, Mamosta Mohammad Nezhati. Pemuka agama tersebut meregang nyawa akibat serangan bersenjata di wilayah Azerbaijan Barat pada 9 September 2026.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menuding kelompok separatis Kurdi yang disokong pihak luar sebagai dalang di balik serangan tersebut. Menurut IRGC, aksi teror ini dirancang secara sengaja untuk memecah belah keharmonisan antara umat Islam Sunni dan Syiah di wilayah utara.
Sebaliknya, lingkaran aktivis lokal mengedarkan klaim tandingan mengenai keterkaitan korban dengan aparat, menghadirkan kontradiksi informasi yang mengaburkan motif sesungguhnya dari pembunuhan tersebut.
Bara Keamanan di Wilayah Perbatasan
Kematian Gorgij semakin memperkeruh situasi di Sistan-Baluchestan wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Pakistan dan Afghanistan serta didiami mayoritas muslim Sunni etnis Baluch. Daerah ini tengah berada dalam kondisi siaga tinggi setelah bentrokan berdarah antara milisi bersenjata dan aparat keamanan pecah di kawasan Saravan pada Sabtu (12/9/2026).
Sejumlah spekulasi lokal sempat mengaitkan penyerangan Gorgij dengan gerakan Jaish al-Adl, kelompok militan yang berulang kali menyerang pos aparat Iran. Kendati demikian, nihilnya konfirmasi resmi membuat aparat masih harus bekerja keras memvalidasi jejaring pelaku.
Kasus ini kian menambah daftar kelam kekerasan terhadap pemuka agama di daerah tersebut. Pada Juli 2026 lalu, imam salat Jumat di perbatasan Mirjaveh, Molavi Mohammad Anvar Rigi, juga tewas ditembak mati di jalanan, dan hingga kini pelakunya belum terungkap.
Pemerintah Teheran kini menghadapi tantangan ganda yang sangat rumit. Selain memikul kewajiban menegakkan hukum dan menangkap para eksekutor bersenjata, otoritas dituntut melakukan penyelidikan secara transparan. Langkah objektif dinilai krusial untuk mencegah insiden berulang ini dimanfaatkan sebagai amunisi propaganda sektarian yang dapat memicu eskalasi konflik sosial di kawasan tapal batas Iran.[]