Menjembatani Estetika dan Bisnis: Perintis Berdaya Pacu Seniman Aceh Jadi Wirausahawan Kreatif

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Ruang gerak para pelaku industri kreatif di Aceh kian bergairah seiring hadirnya wadah-wadah edukasi yang mempertemukan idealisme berkarya dengan strategi bisnis modern. Menjawab tantangan keberlanjutan ekonomi bagi para pekerja seni, komunitas Perintis Berdaya menginisiasi sesi bincang bertajuk “Mindset Seniman Menjadi Artpreneur“.

Agenda dialog terbuka ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 12 September 2026, mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Pertemuan para pegiat seni dan wirausahawan muda tersebut dipusatkan di Halaman Jeda, Jalan Lebanon No. 1, kawasan Batoh, Banda Aceh.

Mengusung pesan transformasi “mengubah pola pikir dari hanya berkarya menjadi berkarya sekaligus berusaha”, inisiatif ini dirancang guna membedah mitos klasik bahwa seniman harus selalu berjarak dari kalkulasi finansial. Melalui forum ini, para kreator didorong untuk memposisikan karya cipta mereka sebagai produk bernilai ekonomi tinggi tanpa harus menggadaikan orisinalitas maupun integritas estetikanya.

Hadirkan Tokoh Budaya dan Praktisi Industri Kreatif

Guna menyajikan pandangan yang komprehensif, penyelenggara mempertemukan dua narasumber yang mewakili generasi dan perspektif berbeda di lanskap kebudayaan serta industri kreatif tanah air.

Narasumber pertama adalah Rafly Kande, budayawan dan maestro musik etnik kontemporer Aceh. Pengalaman panjangnya mengarungi belantara industri musik nasional dinilai sarat akan pelajaran berharga tentang bagaimana merawat akar tradisi sekaligus membangun kemandirian hidup dari jalur kesenian.

Sebagai penyeimbang perspektif bisnis kekinian, hadir pula Nazar Syah Alam, pemilik Studio SA yang saat ini turut mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Aceh. Nazar dijadwalkan mengurai peta jalan praktis bagi kreator lokal untuk membaca peluang pasar, mengemas portofolio karya secara komersial, serta memanfaatkan ekosistem digital demi memperluas jangkauan pasar.

Kolaborasi Ruang Kreatif di Banda Aceh

Pelaksanaan kegiatan ini turut didukung oleh sejumlah simpul jejaring kreatif lokal, seperti Apache, STUDIOSA, serta MASA. Sinergi ini mencerminkan kuatnya kesadaran kolektif di kalangan entitas kreatif Aceh untuk saling menopang dan menciptakan ekosistem usaha yang mandiri.

Penyelenggara membuka kesempatan bagi para musisi, perupa, pegiat teater, fotografer, desainer, hingga masyarakat umum untuk berpartisipasi secara langsung. Pendaftaran peserta difasilitasi melalui pemindaian kode respon cepat (QR code) pada media publikasi resmi atau melalui tautan digital https://bit.ly/MindsetSeniman.

Melalui lokakarya gagasan ini, para seniman muda di Aceh diharapkan mampu menata ulang paradigma berkarya mereka. Menjadi seorang artpreneur dipandang sebagai jalan keluar visioner agar para pekerja seni di Tanah Rencong tidak hanya diakui keagungan karyanya, tetapi juga sejahtera dan berdaulat secara ekonomi dari karya yang dilahirkannya.[]