Minyak Sentuh USD 100, Menkeu Jamin Anggaran Subsidi BBM

SEANTERONEWS.com – Pemerintah memberikan sinyal ketenangan kepada publik di tengah kembali memanasnya tensi geopolitik global yang memicu lonjakan harga komoditas energi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa postur anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) tahun berjalan masih berada dalam batas aman dan terkendali.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran yang langsung mengerek kurva harga minyak mentah internasional ke level tertinggi baru. Menkeu menegaskan, otoritas fiskal nasional telah terbiasa memitigasi volatilitas pasar komoditas, sehingga kenaikan harga kali ini tidak memicu kepanikan di internal pemerintah.
Menurut Purbaya, pengalaman panjang Indonesia dalam mengelola dinamika fluktuasi komoditas global telah membentuk mekanisme ketahanan fiskal yang adaptif. Pemerintah memiliki perhitungan matang untuk menjaga stabilitas kas negara tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.
“Pemerintah tidak kaget menghadapi situasi lonjakan harga energi saat ini. Dinamika seperti ini bukan hal baru dalam sejarah pengelolaan anggaran kita, dan kapasitas fiskal kita telah disiapkan untuk mengantisipasi volatilitas tersebut,” ujar Purbaya.
Ketegangan di jalur pasokan minyak dunia memuncak pada sesi perdagangan Rabu, di mana harga minyak mentah acuan Brent sempat menembus level psikologis USD 100 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ikut terkerek ke kisaran USD 94 per barel.
Reli kenaikan harga tersebut dipicu oleh aksi militer Amerika Serikat yang melancarkan serangan terhadap empat kapal tanker milik Iran di kawasan Teluk Oman, serta satu kapal tanker tambahan di perairan dekat Pulau Kharg. Mengingat Pulau Kharg merupakan simpul utama infrastruktur ekspor minyak mentah Iran, aksi tersebut langsung memicu kekhawatiran akut pasar terhadap potensi disrupsi pasokan minyak di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Kendati lonjakan harga impor minyak berpotensi memperlebar beban kompensasi dan subsidi energi, APBN dirancang memiliki ruang peredam kejut (shock absorber). Kenaikan harga minyak mentah di sisi lain biasanya turut menyumbang devisa tambahan lewat pos Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas, meski perhitungannya terus dikalkulasi secara cermat terhadap beban belanja subsidi.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia dari hari ke hari guna memastikan pasokan BBM bersubsidi bagi masyarakat tetap terdistribusi secara lancar. Otoritas fiskal memastikan prioritas utama saat ini adalah menjaga stabilitas inflasi dan melindungi sektor riil dari dampak rambatan krisis energi global.[]