Banjir Landa 6 Daerah di Sumut, Langkat Terparah

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

MEDAN – Cuaca ekstrem yang ditandai dengan tingginya intensitas curah hujan pada rentang akhir pekan lalu hingga awal pekan ini memicu bencana banjir di wilayah Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Tercatat, sebanyak enam kabupaten dan kota terendam air, memaksa ribuan Kepala Keluarga (KK) merasakan dampak langsung dari krisis hidrometeorologi tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) setempat, air mulai merendam permukiman warga sejak Sabtu (5/9) dan terus berlanjut hingga Senin (7/9).

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengonfirmasi meluasnya dampak bencana ini. Ia menyatakan bahwa jajarannya telah memetakan enam wilayah administratif yang paling terdampak oleh luapan air.

“Laporan resmi yang masuk ke meja Pusdalops memastikan bahwa banjir telah menyebar di enam kabupaten/kota di Sumatera Utara,” ungkap Sri Wahyuni saat memberikan keterangan di Medan, Selasa (8/9/2026).

Adapun enam wilayah yang dilanda musibah tersebut meliputi Kabupaten Langkat, Nias Selatan, Nias Barat, Deli Serdang, serta dua kawasan perkotaan yakni Kota Medan dan Kota Binjai.

Langkat Menanggung Dampak Paling Signifikan

Dari peta sebaran bencana, Kabupaten Langkat tercatat sebagai wilayah dengan kondisi paling parah. Di daerah ini, amukan air merendam empat kecamatan dan mengganggu kehidupan 2.678 Kepala Keluarga.

Menyusul di posisi kedua adalah ibu kota provinsi, Kota Medan. Meski hanya terpusat di satu kecamatan, padatnya penduduk membuat angka terdampak melonjak hingga mencapai 817 KK. Sementara itu, di wilayah kepulauan, tepatnya Kabupaten Nias Barat, banjir melumpuhkan aktivitas 595 keluarga yang tersebar di empat kecamatan berbeda.

Dampak luapan air juga merata di wilayah aglomerasi lainnya. Di Kota Binjai, sebanyak 461 keluarga dilaporkan terdampak, disusul Kabupaten Deli Serdang dengan 30 keluarga dari satu kecamatan yang rumahnya tergenang air.

Berbeda dengan wilayah lainnya yang banyak merendam kawasan permukiman, banjir di Kabupaten Nias Selatan dilaporkan lebih banyak memukul sektor infrastruktur. Sejumlah fasilitas umum di Kecamatan Hilisalawa’ahe mengalami kerusakan akibat genangan air.

Sinergi Penanganan dan Kewaspadaan Lanjutan

Merespons krisis ini, mesin birokrasi dan unsur kedaruratan langsung bergerak. Sri Wahyuni menegaskan bahwa proses mitigasi dan evakuasi di lapangan sepenuhnya dikoordinasikan secara sinergis antara BPBD tingkat provinsi dengan pemerintah daerah masing-masing.

Tim reaksi cepat dari berbagai pemangku kepentingan saat ini difokuskan pada pendataan riil (asesmen) korban, penyaluran logistik, serta pemantauan titik-titik krisis di lokasi kejadian. Langkah taktis ini bertujuan untuk memastikan tidak ada warga terdampak yang luput dari jaring pengaman pemerintah.

Di tengah upaya pemulihan yang masih berlangsung, BPBD Sumut terus menerbitkan peringatan dini. Mengingat anomali cuaca yang belum stabil, masyarakat terutama yang bermukim di daerah cekungan dan bantaran sungai diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan jika hujan lebat kembali mengguyur Sumatera Utara.[]