HMI Merauke: PSN Papua Harus Fokus pada SDM Orang Asli

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

MERAUKE – Kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua dipandang sebagai momentum emas untuk mempercepat pembangunan wilayah Timur Indonesia. Namun, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Merauke, Irwan, mengingatkan bahwa keberhasilan proyek berskala besar ini tidak boleh hanya dihitung dari megahnya infrastruktur fisik atau kawasan ekonomi semata.

Menurut Irwan, tolok ukur keberhasilan PSN yang paling fundamental adalah sejauh mana pembangunan tersebut mampu melahirkan generasi Orang Asli Papua (OAP) yang berpendidikan, berdaya saing, dan menjadi aktor utama dalam mengelola tanah kelahirannya sendiri.

“Jangan sampai pembangunan berjalan sangat cepat, tetapi masyarakat asli hanya menjadi penonton. Keberhasilan PSN harus diukur dari seberapa banyak anak-anak Papua yang nantinya menjadi sarjana, tenaga profesional, serta pemimpin yang mengelola pembangunan di daerahnya sendiri,” tegas Irwan dalam keterangan resminya, Sabtu (25/7/2026).

Pendidikan sebagai Investasi Utama

Pernyataan tersebut disampaikan Irwan dalam diskusi publik bertajuk “Perumusan Model Pendidikan Nonformal Berbasis Komunitas” yang diselenggarakan oleh Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Merauke. Irwan menilai bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang krusial agar masyarakat adat tidak tertinggal di tengah arus modernisasi.

Ia mendesak adanya kebijakan afirmatif yang konkret di bidang pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas sekolah formal, program beasiswa, hingga penguatan pendidikan nonformal yang berbasis komunitas. Bagi Irwan, investasi ekonomi yang masif harus berjalan beriringan dengan “investasi manusia” melalui pendidikan yang berkualitas.

Kesejahteraan Keluarga dan Jati Diri Budaya

Lebih lanjut, Irwan menyoroti keterkaitan erat antara kesejahteraan ekonomi keluarga dengan keberlangsungan pendidikan anak. PSN diyakini mampu membuka ruang ekonomi bagi warga lokal, yang nantinya akan memberikan dampak langsung pada kemampuan finansial keluarga untuk menjamin pendidikan anak-anak mereka.

Namun, ia juga memberi catatan penting terkait identitas. Modernisasi pembangunan diharapkan tidak mengikis jati diri budaya Papua. Pendidikan yang ideal harus mampu membentuk generasi muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap memegang teguh adat serta nilai-nilai budaya lokal.

“Modernisasi harus memperkuat, bukan menghapus identitas budaya. Kita butuh generasi Papua yang cerdas secara global, tetapi tetap menghormati akar budayanya sendiri,” tambah mahasiswa akhir prodi Geografi UNJ tersebut.

Membangun Manusia Papua

Irwan menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa dukungan masyarakat terhadap PSN akan semakin kuat jika manfaatnya dirasakan langsung melalui peningkatan akses pendidikan dan peluang ekonomi. Ia mengajak rekan-rekan mahasiswa dan akademisi untuk aktif mengawal proses ini melalui riset serta pendampingan yang berbasis data lapangan.

“Tujuan akhir pembangunan bukan sekadar membangun kawasan, melainkan membangun manusianya. Ketika anak-anak Papua tumbuh menjadi generasi yang cerdas, sejahtera, dan mampu memimpin pembangunan di tanahnya sendiri, saat itulah PSN benar-benar mewujudkan keadilan pembangunan bagi Papua,” pungkasnya.[]