Kekhawatiran Gangguan Selat Hormuz Mereda, Harga Minyak Dunia Jatuh Lebih dari 3 Persen

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Harga minyak mentah dunia ditutup merosot tajam pada akhir perdagangan Jumat (26/6/2026) waktu setempat. Penurunan ini dipicu oleh pulihnya kepercayaan pelaku pasar bahwa jalur distribusi minyak utama dunia di Selat Hormuz tetap berjalan kondusif.

Sentimen positif tersebut berhasil meredakan kepanikan pasar, meskipun sehari sebelumnya sempat terjadi ketegangan akibat serangan terhadap kapal kargo di dekat perairan Oman.

Pada penutupan transaksi akhir pekan, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman global merosot sebesar 3,27 Dolar AS atau sekitar 4,34 persen menjadi 71,99 Dolar AS per barel.

Sejalan dengan itu, patokan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat anjlok 2,69 Dolar AS atau 3,74 persen menuju level 69,23 Dolar AS per barel.

Secara kumulatif dalam sepekan terakhir, tren pergerakan kedua patokan harga komoditas energi tersebut mencatatkan pelemahan yang cukup signifikan. Sejak perdagangan pekan lalu ditutup, Brent telah kehilangan nilai sekitar 10,9 persen, sementara WTI terkoreksi hingga 9,6 persen.

Koreksi tajam ini dipengaruhi oleh meredanya kekhawatiran pasar akan potensi defisit pasokan global. Para pelaku pasar kini kembali memproyeksikan kecukupan suplai energi dalam jangka pendek, menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari yang menenangkan eskalasi di wilayah Timur Tengah.

Kondisi tersebut diperkuat oleh laporan bahwa fasilitas pemuatan minyak mentah milik perusahaan energi raksasa Saudi Aramco di terminal Ras Tanura kembali beroperasi secara normal. Sebelumnya, aktivitas pemuatan di terminal strategis ini sempat terhenti selama hampir empat bulan.

Data lalu lintas maritim terbaru menunjukkan bahwa beberapa kapal tanker ukuran raksasa (Very Large Crude Carrier/VLCC) yang masing-masing memiliki kapasitas angkut hingga dua juta barel minyak telah kembali melakukan pemuatan di fasilitas tersebut.

Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 2 persen akibat kepanikan sesaat setelah sebuah kapal kargo dilaporkan terhantam proyektil tak dikenal di wilayah perairan dekat Oman. Otoritas keamanan Amerika Serikat mengindikasikan adanya keterlibatan militer Iran dalam insiden tersebut saat kapal melintasi Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran menegaskan kembali klaim otoritasnya atas pengawasan jalur pelayaran di kawasan Teluk dan memberikan peringatan keras kepada negara-negara tetangga agar tidak berpihak pada AS.

Meskipun tensi geopolitik sempat memanas, data navigasi riil menunjukkan bahwa volume pengiriman minyak mentah yang melewati Selat Hormuz justru merangkak naik ke level tertingginya sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari lalu.

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan rata-rata harian sebelum konflik meletus, total lalu lintas kapal tanker di jalur vital tersebut masih relatif lebih rendah.

Di belahan dunia lain, pergerakan harga minyak global sedikit tertahan dari koreksi yang lebih dalam akibat potensi hambatan pasokan dari Eropa Timur. Pemerintah Rusia dikabarkan tengah mengkaji kebijakan larangan ekspor bahan bakar jenis solar (diesel) untuk jangka waktu beberapa bulan ke depan.

Rencana proteksionisme energi dalam negeri Rusia ini mengemuka setelah rangkaian serangan drone Ukraina dilaporkan merusak infrastruktur beberapa kilang minyak penting di wilayah Rusia, sehingga memaksa Moskow memprioritaskan pemenuhan kebutuhan bahan bakar domestik terlebih dahulu.[]