Dolar AS Melonggar, Emas Spot Rebound di Akhir Pekan meski Tren Mingguan Masih Melemah

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Pergerakan harga emas di pasar global berhasil ditutup di zona hijau pada akhir perdagangan Jumat (26/6/2026). Penguatan ini didorong oleh aksi ambil untung pelaku pasar menyusul koreksi nilai tukar Dolar AS serta sedikit meredanya proyeksi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Meski demikian, penguatan harian ini belum mampu menyelamatkan logam mulia dari tren negatif mingguan yang kini telah memasuki pekan keempat berturut-turut.

Pada penutupan perdagangan, harga emas spot terpantau naik sebesar 1,3 persen ke posisi 4.077,64 Dolar AS per ons. Sejalan dengan itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Agustus juga ditutup menguat 1,2 persen, berakhir pada level 4.096,30 Dolar AS per ons.

Pemulihan teknis pada harga emas terjadi setelah indeks Dolar AS sedikit melandai dari level tertingginya. Sebelumnya, mata uang Paman Sam sempat melonjak tajam setelah rilis data indikator inflasi acuan The Fed, yaitu Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti, yang tercatat merangkak naik 4,1 persen dalam basis tahunan hingga Mei lalu.

Meskipun inflasi masih cukup tinggi, ekspektasi pasar terhadap langkah agresif The Fed sedikit bergeser. Berdasarkan data terkini dari CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan bulan September mendatang kini berada di angka 59 persen. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan estimasi pertengahan pekan yang sempat menyentuh 64 persen.

Jim Wyckoff, analis pasar senior di American Gold Exchange, mengemukakan bahwa koreksi naik kali ini bersifat pemulihan moderat setelah tekanan jual yang cukup masif di awal pekan hingga sempat menyeret harga emas spot ke level terendah dalam kurun waktu tujuh bulan. Kendati demikian, Wyckoff mengingatkan bahwa tekanan jangka panjang belum sepenuhnya hilang.

Kebijakan moneter ketat dan tingginya tingkat suku bunga global tetap menjadi faktor penahan daya tarik emas, mengingat aset ini tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) jika dibandingkan dengan obligasi pemerintah.

Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, harga komoditas kuning ini masih membukukan penurunan nilai sebesar 2,1 persen.

Di pasar fisik, pergerakan harga yang cenderung fluktuatif mulai memicu reaksi dari para pembeli utama. Di India, harga emas untuk pertama kalinya dalam satu setengah bulan terakhir diperdagangkan dengan nilai premi. Penurunan harga dalam beberapa pekan terakhir dimanfaatkan oleh para peritel domestik untuk melakukan aksi beli (dip buying).

Kondisi berbeda terlihat di China. Sebagai negara importir dan konsumen emas terbesar di dunia, aktivitas pembelian fisik di Negeri Tirai Bambu tersebut dilaporkan masih cenderung sepi dan belum menunjukkan pemulihan permintaan yang signifikan.

Seiring dengan kenaikan harga emas, beberapa komoditas logam mulia lainnya juga terpantau mencatatkan kinerja positif pada penutupan pekan ini:

Perak Spot: Menguat sebesar 2,2 persen menjadi 59,12 Dolar AS per ons.

Platinun: Ditutup naik 2 persen pada level 1.632,80 Dolar AS per ons.