Kanada Tolak Visa Thomas Partey, Pemerintah Ghana Protes

SEANTERONEWS.com – Pemerintah Ghana melayangkan kritik keras terhadap kebijakan otoritas Kanada yang menolak memberikan visa masuk kepada gelandang andalan mereka, Thomas Partey. Keputusan sepihak ini membuat pemain Villarreal tersebut terancam tidak bisa memperkuat negaranya dalam laga krusial babak penyisihan Piala Dunia melawan Panama pada hari Rabu mendatang.
Pihak Ghana menilai tindakan penolakan izin masuk oleh otoritas imigrasi Kanada tersebut sebagai keputusan yang sangat tidak adil dan diputuskan secara sepihak.
Kementerian Luar Negeri Ghana mengonfirmasi bahwa penolakan visa ini didasarkan pada proses hukum pidana yang saat ini tengah berjalan di Inggris terhadap sang pemain. Thomas Partey, mantan gelandang Arsenal berusia 32 tahun, saat ini memang sedang menghadapi tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan di Inggris. Kendati demikian, sang pemain telah membantah keras seluruh tuduhan tersebut.
Sebagai langkah tindak lanjut, diplomat Ghana telah mengirimkan nota protes resmi untuk meminta pihak Kanada meninjau kembali keputusan imigrasi mereka.
“Pemerintah Republik Ghana menyatakan keberatan yang sangat keras menyusul keputusan sepihak dan sangat tidak adil yang diambil oleh Kanada,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Ghana.
Pemerintah Ghana menambahkan bahwa meskipun mereka tetap menghormati hak berdaulat Kanada untuk menegakkan hukum imigrasinya, menjadikan dakwaan yang belum terbukti secara hukum sebagai dasar penolakan dinilai mencederai nilai-nilai keadilan publik dan proporsionalitas hukum.
Di sisi lain, juru bicara Departemen Imigrasi, Pengungsi, dan Kewarganegaraan Kanada menegaskan bahwa hukum imigrasi nasional tetap berlaku secara konsisten, sekalipun negara tersebut tengah menjadi tuan rumah turnamen olahraga internasional terbesar di dunia.
“Setiap orang yang mengajukan permohonan masuk ke Kanada akan dievaluasi secara individual, berdasarkan fakta-fakta yang ada dan undang-undang yang berlaku,” tegas perwakilan dari otoritas Kanada tersebut.
Sementara itu, federasi sepak bola dunia, FIFA, memilih untuk tidak ikut campur dalam polemik administratif ini. FIFA menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak memiliki wewenang atau keterlibatan dalam proses keimigrasian nasional yang diterapkan oleh negara-negara tuan rumah penyelenggara turnamen.