Eks Pejabat AS: Netanyahu Terjepit dan Israel Kalah

SEANTERONEWS.com – Mantan Kepala Staf Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Kolonel Purnawirawan Lawrence Wilkerson, memberikan pandangan kritis terkait posisi geopolitik Israel saat ini. Menurutnya, negara tersebut tengah menghadapi salah satu periode paling menantang sepanjang sejarahnya akibat himpitan militer dan politik.
Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Glenn Diesen pada Selasa malam (9/6/2026), Wilkerson menyebut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini berada dalam posisi terjepit di antara dua tekanan besar. Upaya militer yang selama ini dikerahkan, termasuk di wilayah Lebanon Selatan, dinilai belum mampu menumbangkan kekuatan Hezbollah.
“Apapun langkah yang diambil, posisinya tetap sulit,” ujar mantan perwira Angkatan Darat AS tersebut.
Gejolak Politik Dalam Negeri dan Sorotan Hukum Internasional
Selain menghadapi tantangan keamanan di perbatasan, stabilitas politik di dalam negeri Israel juga dilaporkan sedang tidak kondusif. Kepemimpinan Netanyahu saat ini diterpa berbagai isu politik internal yang melemahkan konsensus domestik.
Di sisi lain, Wilkerson menyoroti pola pendekatan pertahanan Israel di wilayah Palestina yang dinilai mengabaikan norma hukum internasional. Kondisi ini memicu gelombang kritik diplomasi dan tekanan dari komunitas global yang terus mengalir deras ke Tel Aviv.
Ia menggambarkan situasi ekonomi perang di wilayah konflik tersebut berjalan dengan pola yang tidak sehat, di mana harga kebutuhan pokok melambung tinggi secara tidak wajar sementara pihak-pihak tertentu memanfaatkan situasi tersebut untuk mencari keuntungan finansial. Tindakan militer di Lebanon, termasuk di wilayah Beirut dan Dahieh, dinilai kian sulit dijustifikasi di mata dunia.
Strategi Asimetris Melawan Iran
Dalam skala regional yang lebih luas, Wilkerson menganalisis dinamika konflik asimetris antara Israel dan Iran. Berdasarkan kalkulasi taktis, kubu pertahanan Iran memiliki keunggulan posisi dalam perang jangka panjang.
“Iran secara sederhana hanya perlu bertahan dan tidak kalah untuk bisa dinyatakan menang. Sebaliknya, Amerika Serikat dan Israel dituntut untuk merengkuh kemenangan mutlak yang luar biasa agar dapat mengubah keadaan, dan hal itu dinilai hampir mustahil terjadi dalam situasi sekarang,” jelas Wilkerson.
Ia juga menambahkan bahwa kebijakan pemerintahan AS di masa lalu di bawah Donald Trump dinilai kurang berhasil dalam merumuskan kerangka keamanan jangka panjang yang solid bagi Israel di kawasan Timur Tengah.[]