Kebangkitan Sang Raja: “Comeback” BTS Picu Ledakan Ekonomi di Korea Selatan

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Fenomena global K-pop, BTS, resmi kembali ke dunia hiburan setelah menyelesaikan masa wajib militer mereka. Ribuan penggemar dari berbagai penjuru dunia, termasuk Shekinah Yawra dari Filipina, memadati Gwanghwamun Square di Seoul demi menyaksikan idola mereka meski harus menginap di jjimjilbang akibat hotel yang ludes dipesan.

Kembalinya grup beranggotakan tujuh orang ini pada akhir Maret 2026 tidak hanya menjadi momen emosional bagi para penggemar (ARMY), tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi yang luar biasa bagi Korea Selatan.

Rekor Baru dan Dampak Ekonomi Global

Melalui album studio ke-10 mereka bertajuk Arirang, BTS berhasil memuncaki tangga lagu di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Keberhasilan ini diikuti dengan proyeksi pendapatan yang fantastis dari tur dunia mendatang:

Pendapatan Tur Dunia: Diperkirakan mencapai lebih dari $1,4 miliar melalui 80 pertunjukan di 23 negara.

Livestreaming: Konser comeback mereka di Netflix ditonton oleh lebih dari 18,4 juta pemirsa di seluruh dunia.

Dampak Domestik: Korea Culture and Tourism Institute (KCTI) memperkirakan satu konser BTS di Seoul dapat menghasilkan dampak ekonomi hingga 1,2 triliun won atau sekitar $798 juta.

Pariwisata dan Penjualan Ritel Melonjak Tajam

Kehadiran BTS memberikan stimulasi langsung pada sektor pariwisata dan ritel. Data Kementerian Kehakiman menunjukkan jumlah turis asing naik 32,7% pada paruh pertama Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.

Sektor ritel juga mencatat pertumbuhan yang signifikan:

Merchandise: Penjualan pernak-pernik BTS di Shinsegae Duty Free melonjak hingga 430% menjelang konser.

Pusat Perbelanjaan: Pendapatan Lotte Department Store naik 30% dan Shinsegae secara keseluruhan naik 48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Strategi “Hallyu 4.0” Pemerintah Korea Selatan

Pemerintah Korea Selatan memandang BTS sebagai simbol penting “Hallyu” atau Gelombang Korea yang memperkuat soft power negara tersebut. Presiden Lee Jae Myung bahkan telah mencanangkan visi “Hallyu 4.0” dengan target menjadikan industri budaya bernilai 300 triliun won pada masa depan.

Dukungan pemerintah terlihat nyata dalam konser Gwanghwamun, di mana otoritas menyetujui penggunaan alun-alun kota atas dasar kepentingan publik dan mengerahkan lebih dari 10.000 personel keamanan.

Tantangan di Balik Gemerlap Industri

Meski sukses besar secara finansial, industri K-culture tetap menghadapi kritik terkait tekanan kerja yang ekstrem bagi para idola, standar kecantikan yang memicu tingginya angka prosedur kosmetik di Korea Selatan, serta sengketa kontrak.

Peneliti KCTI, Yang Ji-hoon, memperingatkan bahwa seiring meluasnya skala industri, reformasi struktural pada infrastruktur, sistem data, dan lingkungan kerja sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan minat global terhadap konten Korea.[]