Menaker Yassierli: Ijazah Bukan Jaminan Tunggal di Era Disrupsi AI

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

JAKARTA – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, menegaskan bahwa ijazah akademik kini bukan lagi satu-satunya jaminan bagi lulusan perguruan tinggi untuk memenangkan persaingan di pasar kerja global yang dinamis.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan orasi ilmiah dalam acara Wisuda Universitas Paramadina di Jakarta.

Dalam orasinya, Menaker menyoroti pergeseran masif di dunia kerja, di mana 80 persen judul pekerjaan saat ini bahkan belum ada 20 tahun yang lalu. Tantangan semakin nyata karena 50 persen pekerjaan yang ada sekarang diprediksi akan menjadi tidak relevan dalam satu dekade mendatang.

Kesenjangan Keterampilan Digital di Indonesia

Yassierli memaparkan adanya digital skill gap yang cukup lebar di Indonesia. Saat ini, hanya 27 persen pekerja Indonesia yang memiliki keterampilan digital, jauh tertinggal dari standar global yang mencapai 60 hingga 70 persen.

Kondisi ini mendesak karena tuntutan industri terhadap kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melonjak tajam. Berdasarkan survei, hampir 70 persen pemimpin bisnis di Indonesia enggan merekrut kandidat yang tidak memiliki kemampuan dasar terkait AI.

Mengenal Strategi “Triple Readiness”

Guna menghadapi tantangan tersebut, Menaker memperkenalkan strategi Triple Readiness (Tiga Kesiapan) bagi para generasi muda:

Technical Skills Readiness: Penguasaan keterampilan teknis yang relevan dengan industri masa depan, seperti advanced digital skills dan keterampilan ekonomi hijau (green jobs). Menaker menekankan bahwa sekadar mampu menggunakan media sosial bukanlah keterampilan digital yang dicari industri.

Human Skills Readiness: Penguatan aspek berpikir kritis, empati, kepemimpinan, dan kreativitas. Menurutnya, AI tetap membutuhkan sentuhan manusia untuk memahami konteks, batasan, dan risiko.

Market Entry Readiness: Kesiapan dalam memahami dinamika industri melalui portofolio yang kuat, pengalaman magang, serta sertifikasi kompetensi.

Paradigma Baru: “Skills, Not School”

Menaker menegaskan bahwa industri saat ini lebih mencari kompetensi nyata dibandingkan sekadar gelar administratif. “Saat ini yang dicari industri adalah skills, not school,” tegas Yassierli.

Data menunjukkan peningkatan empat kali lipat jumlah lowongan kerja yang lebih mengutamakan kompetensi dalam satu dekade terakhir.

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan terus mendukung pengembangan talenta melalui 44 Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di seluruh Indonesia untuk program reskilling dan upskilling.

Menaker menutup orasinya dengan mengajak para lulusan untuk memiliki growth mindset dan menjadi pembelajar sepanjang hayat demi beradaptasi dengan perubahan teknologi.