Suroto AKSES: Korporasi Kapitalis Jadi Biang Kerok Kemiskinan

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Persoalan kemiskinan di Indonesia disebut bukan sekadar masalah teknis, melainkan dampak dari dominasi korporasi bercorak kapitalisme yang kian tak terkendali.

Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) sekaligus pakar koperasi, Suroto, menyatakan bahwa keberadaan korporasi baik lokal, nasional, maupun asing menjadi faktor utama yang menghambat kesejahteraan rakyat.

Dalam keterangan resminya pada Minggu (26/4/2026), Suroto menegaskan bahwa dampak buruk dari praktik korporasi ini terlihat jelas dalam keseharian masyarakat kelas bawah.

“Penyebab terjadinya kemiskinan yang dapat kita lihat secara kasat mata dalam keseharian kita itu terang benderang ialah korporasi. Korporasi kapitalis lokal, nasional, maupun asing,” ujar Suroto.

Suroto menyoroti bagaimana kelompok ekonomi rentan seperti petani, nelayan, perajin, peternak, hingga pedagang kecil menjadi pihak yang paling dirugikan.

Menurutnya, kekuatan ekonomi yang terpusat di tangan segelintir korporasi membuat masyarakat kecil kehilangan daya tawar.

“Para pemilik korporasi kapitalis itu menekan harga petani, nelayan, perajin, peternak, dan pedagang kecil. Mereka menghisap daya beli rakyat yang sudah kering serta menggencet tarif gaji buruh,” jelasnya.

Fenomena ini menciptakan lingkaran setan di mana rakyat kecil terus bekerja keras, namun hasilnya justru terserap oleh sistem pasar yang dikendalikan oleh korporasi besar.

Lebih lanjut, Suroto mengkritik pemerintah yang dinilai tidak memiliki taring untuk mengatasi masalah ini. Ia menduga adanya keberpihakan oknum-oknum di dalam pemerintahan yang justru mendukung kepentingan korporasi, alih-alih melindungi rakyat.

“Anehnya, upaya penyelesaian justru dimintakan kepada lembaga pemerintah yang miskin gagasan dan berisi orang-orang yang menjadi bagian dari penyebab kemiskinan itu sendiri,” sindir Suroto.

Ia juga menyoroti peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berupaya menyelesaikan masalah kemiskinan secara sukarela.

Menurut Suroto, gerakan ini sering kali tidak efektif karena keterbatasan dana dan ketergantungan pada donor korporasi kapitalis yang justru menjadi penyebab utama kemiskinan itu sendiri.

Pernyataan Suroto ini menjadi pengingat keras bagi pemangku kebijakan untuk mengevaluasi kembali arah ekonomi nasional agar tidak terus-menerus terjebak dalam model kapitalisme yang mengabaikan keadilan sosial bagi rakyat kecil.[]