Indonesia Resmi Swasembada Pangan, Impor Hanya 5 Persen

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara resmi mengonfirmasi bahwa Indonesia telah mencapai status swasembada pangan. Prestasi ini diraih setelah angka impor untuk 11 komoditas strategis nasional berhasil ditekan hingga ke kisaran 5 persen, jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh organisasi pangan dunia (FAO).

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak penting di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut standar FAO, sebuah negara dikategorikan mandiri jika ketergantungan impornya maksimal 10 persen. Indonesia sukses melampaui target tersebut dengan angka yang jauh lebih impresif.

“Definisi yang kita sepakati swasembada pangan adalah maksimal impor 10 persen. Saat ini, kita hanya berada di level 5 persen,” ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Amran memaparkan data produksi nasional yang menjadi tulang punggung klaim swasembada ini. Dari total produksi 11 komoditas pokok yang mencapai 73,7 juta ton, Indonesia hanya melakukan impor sebesar 3,5 juta ton.

“Total produksi kita 73,7 juta ton, sedangkan impor hanya 3,5 juta ton. Jika dihitung secara matematis, persentase impor kita hanya sekitar 4,8 persen hingga 5,1 persen jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi nasional,” jelas Amran.

Sebanyak 3,5 juta ton impor tersebut didominasi oleh tiga komoditas utama, yakni kedelai (2,6 juta ton), bawang putih (600 ribu ton), dan daging ruminansia (350 ribu ton).

Sementara itu, 11 komoditas lainnya seperti beras, jagung pakan, cabai, telur, daging ayam, bawang merah, dan gula konsumsi, telah masuk dalam “rapor hijau” swasembada nasional.

Keberhasilan swasembada pangan nasional sangat dipengaruhi oleh stabilitas stok beras. Amran mengungkapkan bahwa per 23 April 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah, yakni menembus angka 5 juta ton.

Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 264,2 persen dibandingkan periode yang sama dua tahun lalu, serta meningkat 65,8 persen dibandingkan April 2025.

Lompatan ini didorong oleh masifnya serapan produksi petani lokal yang mencapai 2,31 juta ton selama periode Januari-April 2026 melonjak 790 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.

Amran menegaskan bahwa beras menjadi tolok ukur utama karena peran krusialnya dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia.

“Mengapa swasembada pangan sering identik dengan beras? Karena dalam komposisi makan kita, beras menyumbang 60 hingga 80 persen. Beras adalah fondasi ketahanan pangan nasional,” tambahnya.

Dengan pencapaian ini, pemerintah optimistis bahwa kemandirian pangan Indonesia tidak lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud nyata dari upaya bangsa dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat secara berdikari.[]