Dunia Peringati Hari Al-Quds di Tengah Eskalasi Konflik Iran

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Puluhan ribu orang di berbagai belahan dunia turun ke jalan untuk memperingati Hari Al-Quds pada Jumat terakhir Ramadan tahun ini. Aksi tahunan yang digagas sejak 1979 ini menjadi momentum solidaritas global bagi kemerdekaan Palestina, namun kali ini nuansa peringatan terasa jauh lebih tegang akibat konflik terbuka yang melanda Republik Islam Iran.

Peringatan tahun ini berlangsung di tengah kampanye militer Amerika Serikat dan Israel yang telah memasuki hari ke-14. Situasi di kawasan semakin kritis setelah laporan resmi mengonfirmasi jatuhnya ribuan korban jiwa akibat serangan udara tersebut.

Lautan Massa di Tengah Gempuran Udara

Di Teheran, massa tetap memadati jalan-jalan utama meski ancaman serangan udara masih mengintai. Para demonstran meneriakkan slogan anti-Israel dan anti-Amerika sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi militer yang sedang berlangsung. Media pemerintah melaporkan bahwa kehadiran massa kali ini juga merupakan bentuk penghormatan terakhir bagi pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan awal konflik ini.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan angka korban jiwa telah mencapai sedikitnya 1.444 orang, dengan 18.551 lainnya luka-luka sejak ofensif gabungan dimulai pada 28 Februari lalu.

Solidaritas Lintas Benua: Dari Asia ke Kashmir

Sentimen kemarahan terhadap eskalasi di Timur Tengah meluas ke berbagai negara:

Kashmir: Pengunjuk rasa membakar peti mati simbolis bergambar Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu sebagai protes atas keterlibatan militer mereka.

Asia Tenggara: Aksi massa besar juga terpantau di Malaysia dan Indonesia, mendesak penghentian segera kekerasan terhadap warga sipil di Palestina maupun Iran.

Yaman: Ribuan warga berkumpul menyatakan kesiapan mereka untuk terlibat lebih jauh dalam mendukung stabilitas kawasan.

Inggris Larang Aksi Al-Quds di London

Kontroversi terjadi di Eropa saat otoritas Inggris secara resmi melarang pawai Hari Al-Quds di London. Langkah ini merupakan yang pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir. Pemerintah Inggris beralasan bahwa situasi di Timur Tengah yang sangat “volatil” dapat memicu gangguan ketertiban umum dan bentrokan fisik antara kelompok yang bertikai.

Pelarangan ini mencatat sejarah sebagai pelarangan demonstrasi pertama sejak tahun 2012, mencerminkan kekhawatiran tinggi negara-negara Barat akan dampak domestik dari perang yang sedang berkecamuk di kawasan Teluk.

Analisis Situasi

Hari Al-Quds 2026 tidak lagi sekadar ritual politik tahunan, melainkan telah bertransformasi menjadi panggung protes global terhadap peta konflik baru di Timur Tengah. Dengan lumpuhnya jalur komunikasi diplomatik dan terus berlanjutnya serangan udara, peringatan kali ini menandai salah satu periode paling gelap dalam sejarah modern kawasan tersebut.

Krisis kemanusiaan yang terus memburuk dan ancaman stabilitas energi global kini menjadi perhatian utama komunitas internasional seiring dengan tidak adanya tanda-tanda deeskalasi dalam waktu dekat.[]