BNPB Kosongkan Tenda Pengungsian Gayo Lues Jelang Lebaran

GAYO LUES – Langkah nyata diambil Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memastikan tidak ada lagi warga penyintas bencana yang menghabiskan waktu di tenda darurat saat merayakan Idulfitri 2026. Sebanyak 38 Kepala Keluarga (KK) asal Desa Pepelah, Kecamatan Pining, resmi dipindahkan dari tenda pengungsian ke gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Gayo Lues, Kamis (12/3/2026).
Pemindahan ini dipimpin langsung oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, didampingi Bupati Gayo Lues, Suhaidi. Gedung BLK dipilih sebagai tempat transit yang lebih layak sembari menunggu proses pembangunan Hunian Sementara (Huntara) selesai.
Kepala BNPB menegaskan bahwa tinggal di dalam gedung permanen jauh lebih manusiawi dan nyaman dibandingkan di tenda, terutama saat memasuki momen hari raya. Selama berada di gedung BLK, BNPB bersama BPBD setempat menjamin seluruh kebutuhan dasar warga akan terpenuhi.
“Sambil menunggu pembangunan Huntara yang kami targetkan selesai dalam dua minggu warga menempati lokasi ini dulu agar tidak lagi di tenda. Kami siapkan dapur umum lapangan yang akan tiba Sabtu (14/3), sehingga kebutuhan makan dan minum warga terjamin. Kami ingin mereka lebih nyaman, apalagi menjelang Lebaran,” ujar Letjen TNI Suharyanto saat mengunjungi para pengungsi.
Selain memindahkan warga ke BLK, Kepala BNPB juga meninjau perkembangan pembangunan Huntara di beberapa titik lainnya. Di Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, sebanyak 133 KK telah resmi menempati unit Huntara yang disediakan. Untuk menunjang masa awal adaptasi, BNPB memberikan paket bantuan bahan pokok dan perlengkapan non-pangan yang cukup untuk kebutuhan 10 hari ke depan.
Berdasarkan data sementara hingga Selasa (10/3), progres pembangunan hunian di Gayo Lues menunjukkan hasil signifikan:
Target Total: 1.713 unit Huntara. Selesai Dibangun: 1.518 unit.
Status Pengungsi: BNPB memastikan menjelang Lebaran 2026, seluruh masyarakat di Gayo Lues sudah bergeser dari tenda ke hunian yang lebih layak (baik Huntara maupun fasilitas gedung pemda).
Saat menyapa warga di Kecamatan Blangkejeren, Suharyanto memberikan kepastian bahwa sisa unit Huntara yang masih dalam proses pengerjaan akan terus dikebut. Relokasi 38 KK ke gedung BLK menandai berakhirnya penggunaan tenda pengungsian terakhir di kabupaten tersebut.
Upaya ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memberikan perlindungan maksimal bagi penyintas bencana, dengan harapan mereka dapat merayakan hari kemenangan dengan suasana yang lebih tenang dan penuh sukacita di kediaman sementara yang lebih representatif.[]