Google & Airtel Gandengan Lawan Spam RCS di India

BANDA ACEH – Menanggapi keluhan persisten terkait banjir pesan sampah (spam) pada layanan Rich Communication Services (RCS), Google resmi menggandeng Bharti Airtel, operator telekomunikasi terbesar kedua di India. Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat sistem keamanan pada aplikasi Google Messages melalui integrasi filter spam langsung dari jaringan operator.
Kemitraan yang diumumkan pada Minggu (01/03/2026) ini menandai babak baru dalam upaya perlindungan konsumen di India, sebuah pasar yang sangat rentan terhadap praktik pemasaran agresif dan penipuan digital berbasis pesan singkat.
Integrasi Global Pertama: Keamanan di Tingkat Jaringan
Langkah ini disebut sebagai “yang pertama di dunia” untuk integrasi filter spam milik operator telekomunikasi ke dalam platform pesan Over-The-Top (OTT). Melalui kerja sama ini, Airtel yang memiliki lebih dari 463 juta pelanggan akan menyatukan kecerdasan jaringan mereka dengan platform RCS milik Google.
Integrasi ini memungkinkan:
Verifikasi Pengirim: Pengecekan real-time terhadap pesan bisnis yang masuk.
Deteksi Spam Berlapis: Menggabungkan algoritma Google dengan filter jaringan Airtel.
Sinkronisasi DND: Penegakan preferensi Do-Not-Disturb (Jangan Ganggu) milik pengguna secara lebih akurat.
Pihak Airtel menyatakan bahwa mereka sebelumnya sempat berhati-hati untuk bergabung sepenuhnya dengan ekosistem RCS Google hingga jalur pesan tersebut dapat dipastikan melewati kontrol spam internal mereka untuk meminimalkan risiko penipuan finansial.
Melawan Hegemoni WhatsApp di Pasar Krusial
India merupakan medan tempur utama bagi ambisi perpesanan Google. Dengan lebih dari satu miliar pengguna internet, Google berupaya keras memosisikan RCS sebagai suksesor SMS yang mampu bersaing dengan WhatsApp—yang saat ini mendominasi dengan lebih dari 853 juta pengguna di negara tersebut.
Namun, reputasi RCS di India sempat tercoreng pada tahun 2022 akibat maraknya iklan yang tidak diinginkan, yang sempat memaksa Google menghentikan sementara fitur promosi bisnis di wilayah tersebut. Kemitraan dengan Airtel diharapkan dapat memulihkan kepercayaan pengguna terhadap platform ini.
Efektivitas AI dalam Menekan Angka Penipuan
Airtel sendiri telah mencatatkan progres signifikan dalam memerangi kejahatan siber. Sepanjang tahun lalu, sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) milik Airtel dilaporkan telah memblokir lebih dari 71 miliar panggilan spam dan 2,9 miliar pesan sampah. Upaya ini diklaim berhasil menurunkan angka kerugian finansial akibat penipuan di jaringan mereka hingga 69%.
Sameer Samat, President Android Ecosystem di Google, memberikan sinyal bahwa model kerja sama dengan operator ini kemungkinan besar akan diperluas ke negara lain. “Kami berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan ekosistem operator yang lebih luas demi menciptakan pengalaman pesan yang terpercaya bagi pengguna RCS di seluruh dunia,” ujarnya.
Harapan di Mata Analis
Prabhu Ram, pengamat industri dari CyberMedia Research, menilai bahwa langkah ini adalah upaya serius untuk menutup celah kelemahan sistem perpesanan kaya fitur yang selama ini rentan terhadap eksploitasi. Menurutnya, keberhasilan kemitraan ini nantinya akan diukur dari seberapa besar penurunan volume komplain pengguna dan peningkatan interaksi pada pesan bisnis yang sah.
Kolaborasi antara raksasa teknologi (Google) dan penyedia infrastruktur (Airtel) menunjukkan bahwa solusi keamanan AI tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kontrol di tingkat jaringan. Jika model ini berhasil menekan angka spam di pasar sekompleks India, maka standardisasi keamanan RCS secara global diprediksi akan mengikuti langkah serupa dalam waktu dekat.[]