Mahasiswa STISNU Aceh Go International: Jadi Imam Tarawih 1 Juz dan Pengajar di Malaysia

KEDAH, MALAYSIA – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) NU Aceh terus memperluas jangkauan pengabdiannya di tingkat internasional. Sebanyak tujuh mahasiswa terpilih secara resmi menjalankan program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Luar Negeri di Kedah, Malaysia, selama bulan suci Ramadan.
Keberangkatan delegasi ini dari Aceh dibimbing dan didampingi langsung oleh Dr. Zaki Satria, Lc., M.A., yang mengawal proses perjalanan hingga acara serah terima mahasiswa serta pembukaan kegiatan KPM secara resmi di lokasi pengabdian.
Program KPM Internasional ini menjadi bukti nyata komitmen STISNU dalam mengimplementasikan pilar pengabdian masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Adapun delegasi mahasiswa yang bertugas adalah:

-
Fazil Irnanda bin Sudirman
-
Nawal Syarif bin Armada
-
Muhammad Rifaldi bin Rudi Hartono
-
Zikrillah bin M. Jakfar
-
Muhammad Khalilullah
-
Ahmad Syamil bin Ansari
-
Umar Hadi bin Sudirman
Misi Akademik dan Dakwah di Negeri Jiran
Kehadiran mereka di Malaysia bukan sekadar menjalankan ibadah, melainkan membawa misi akademik dan identitas kampus. Selama menjalankan KPM, para mahasiswa mengenakan atribut kebanggaan STISNU sebagai bentuk representasi profesionalisme akademisi muda Aceh di level regional Asia Tenggara.
“Suatu kehormatan bagi kami dapat menjalankan KPM di sini. Meskipun awalnya perlu penyesuaian dengan dialek lokal, alhamdulillah proses pengabdian berjalan lancar,” ujar salah satu delegasi.

Agenda KPM: Dari Imam Tarawih 1 Juz hingga Halaqah Kitab
Sebagai bagian dari beban tugas KPM, para mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan yang terstruktur:
-
Imam Tarawih 1 Juz (20 Rakaat): Para mahasiswa dipercaya memimpin salat Tarawih sebanyak 20 rakaat dengan target bacaan Al-Qur’an satu juz setiap malamnya.
-
Dzikir dan Wirid Pembuka: Mengawali kegiatan dengan pembacaan wirid khas ribat (seperti Wirdul Lathif) untuk menenangkan hati sebelum menerima asupan ilmu.
-
Halaqah Kitab Kuning (Dars): Setiap bada Zhuhur, mahasiswa mengisi pengajian kitab Fiqh Ibadah serta Akhlak/Tasawuf (seperti kitab Nashaihul Diniyyah) bagi para santri.
-
Praktik Berbahasa (Lughah): Mengasah kemampuan komunikasi dakwah dalam Bahasa Arab dan penyesuaian Bahasa Malaysia.
-
Ijtima’i (Buka Puasa Bersama): Mempererat ukhuwah Islamiyah antarbangsa melalui tradisi makan bersama yang sederhana.
Jejak Pengabdian di Tiga Lembaga Besar Kedah
Langkah strategis KPM Luar Negeri ini menempatkan delegasi STISNU di tiga pusat pendidikan Islam ternama di Kedah, yaitu:
-
Pondok Tafaqquh Fiddin, Kejay: Dipimpin oleh Tuan Guru Ahmad Marzuki.
-
Pondok Darul Hidayah: Dipimpin oleh Tuan Guru Jauhari.
-
Ribat Nasrul Muhajirin: Dipimpin oleh Tuan Guru Baba Nasir.
Kehadiran ketujuh mahasiswa ini menjadi bagian penting dari strategi pengembangan institusi dalam memperkuat kualitas lulusan yang kompeten, berakhlak, dan diakui secara luas hingga ke mancanegara. Keberhasilan program ini diharapkan mampu memperkuat akreditasi dan daya saing STISNU Aceh di masa depan.[]