Tragedi Kongo: 200 Orang Tewas Akibat Tambang Runtuh

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Dunia internasional berduka atas tragedi kemanusiaan hebat yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC). Berdasarkan laporan terbaru pada Sabtu (31/1/2026), sebuah tambang di wilayah timur negara tersebut runtuh secara tragis, mengakibatkan lebih dari 200 orang tewas terkubur di bawah reruntuhan.

Insiden ini tercatat sebagai salah satu bencana pertambangan paling mematikan di wilayah tersebut dalam satu dekade terakhir, menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi oleh para pekerja tambang rakyat.

Bencana terjadi saat ratusan penambang sedang bekerja di kedalaman yang signifikan. Menurut saksi mata dan otoritas setempat, struktur tanah yang tidak stabil diduga menjadi penyebab utama runtuhnya terowongan tambang tersebut.

Hujan deras yang mengguyur kawasan timur Kongo dalam beberapa hari terakhir disinyalir memperparah kondisi geologis, membuat dinding tambang menjadi rapuh dan akhirnya amblas tanpa peringatan.

Hingga saat ini, tim penyelamat bersama warga lokal masih terus berupaya mencari korban yang mungkin masih terjebak. Namun, proses evakuasi menghadapi tantangan berat:

Sebagian besar evakuasi dilakukan dengan alat seadanya karena sulitnya akses kendaraan berat ke lokasi tambang yang terpencil.

Risiko longsor susulan membuat petugas harus ekstra hati-hati dalam melakukan penggalian.

Lokasi kejadian yang jauh dari pusat kota menyulitkan koordinasi bantuan medis darurat.

Tragedi ini kembali memicu perdebatan mengenai regulasi pertambangan di DR Kongo. Kawasan timur negara ini dikenal kaya akan mineral berharga seperti kobalt dan emas, namun aktivitas pertambangan sering kali dilakukan secara ilegal atau tanpa standar keamanan yang memadai (artisanal mining).

Pemerintah pusat di Kinshasa kini didesak untuk segera mengambil langkah tegas dalam menertibkan praktik tambang ilegal guna mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut di masa depan.

Ratusan keluarga kini berkumpul di sekitar lokasi kejadian dengan harapan tipis untuk menemukan anggota keluarga mereka dalam keadaan selamat. Organisasi kemanusiaan internasional mulai berdatangan untuk memberikan bantuan darurat berupa kantong jenazah, logistik, dan dukungan psikososial bagi para penyintas.

“Ini adalah hari yang sangat gelap bagi bangsa kami. Kami kehilangan ratusan nyawa pejuang ekonomi di tempat yang seharusnya menjadi sumber penghidupan mereka,” ungkap seorang pejabat daerah setempat dalam pernyataan singkatnya.[]