Ulama Senior Iran Desak Eksekusi Demonstran, Tantang Trump

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Seorang ulama senior berpengaruh di Teheran “Ali Khamenei’ secara terbuka menyerukan percepatan eksekusi mati terhadap para demonstran yang terlibat dalam aksi protes anti pemerintah. Pernyataan keras ini muncul sebagai bentuk pembangkangan langsung terhadap klaim dan tekanan diplomatik yang dilontarkan oleh Donald Trump.

Ini menandakan retaknya harapan akan adanya kompromi atau pelunakan hukuman di tengah gelombang unjuk rasa yang terus mengguncang stabilitas rezim.

Dalam khotbah dan pernyataan resminya, Ali Khamenei menegaskan bahwa hukum harus ditegakkan dengan tangan besi terhadap mereka yang dianggap sebagai “musuh Tuhan” (Moharebeh).

Otoritas yudisial didesak untuk tidak ragu menjatuhkan vonis maksimal guna memberikan efek jera bagi pengunjuk rasa lainnya.

Seruan ini secara spesifik menyebut bahwa campur tangan asing, terutama pernyataan dari Donald Trump, tidak akan mempengaruhi kedaulatan hukum Iran.

Para demonstran yang ditahan dituduh bekerja sama dengan agen intelijen Barat untuk menggulingkan kekuasaan sah di Teheran.

Sebelumnya, Donald Trump melalui saluran komunikasinya telah memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan eksekusi massal. Namun, respons dari elite agama Iran ini menunjukkan bahwa:

Ancaman sanksi tambahan dari Washington tampaknya tidak lagi menjadi deterens bagi faksi garis keras di Iran.

Seruan ini memperkuat posisi bahwa pemerintah tidak akan mundur selangkah pun dalam menghadapi pembangkangan sipil.

Organisasi internasional memperingatkan bahwa penggunaan hukuman mati sebagai alat politik akan memicu isolasi internasional yang lebih dalam bagi Iran di tahun 2026.

Lembaga pemantau hak asasi manusia melaporkan bahwa ratusan orang saat ini menghadapi dakwaan yang dapat berujung pada tiang gantungan. “Kami melihat pola di mana peradilan digunakan bukan untuk keadilan, melainkan untuk membungkam aspirasi rakyat,” ungkap seorang peneliti dalam laporannya.

Ketegangan antara pernyataan Trump dan tindakan nyata otoritas Iran ini diprediksi akan memperburuk hubungan bilateral. Para analis militer dan politik mengkhawatirkan bahwa langkah provokatif ini bisa memicu reaksi lebih keras dari Amerika Serikat, baik dalam bentuk tekanan ekonomi maupun dukungan lebih terbuka bagi gerakan oposisi.[]