Rencana AS Keruk Minyak Venezuela Bakal Lahap 13% Anggaran Karbon Dunia

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

WASHINGTON / CARACAS – Rencana strategis Amerika Serikat untuk mengeksploitasi cadangan minyak raksasa di Venezuela diprediksi akan menjadi “bom waktu” bagi ekologi global. Pasalnya, proyek ambisius ini diperkirakan akan menghabiskan hingga 13% dari sisa anggaran karbon dunia yang diperlukan untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di angka 1,5°C.

Langkah ini memicu perdebatan sengit di kalangan ilmuwan iklim dan aktivis lingkungan yang menuduh Washington mengabaikan janji transisi energi hijau demi kepentingan keamanan energi jangka pendek.

Berdasarkan analisis data yang mendalam, emisi yang dihasilkan dari ekstraksi dan pembakaran cadangan minyak Venezuela yang direncanakan oleh AS memiliki skala yang mengerikan:

Konsumsi Anggaran Karbon: Anggaran karbon adalah jumlah emisi CO2 maksimal yang boleh dilepaskan agar bumi tidak memanas lebih dari 1,5°C. Rencana satu wilayah ini saja berpotensi melahap hampir sepertujuh dari total anggaran global yang tersisa.

Intensitas Karbon Tinggi: Minyak Venezuela dikenal sebagai minyak mentah berat yang memerlukan energi ekstra dalam proses pemurniannya, menjadikannya salah satu jenis minyak paling “kotor” di planet ini.

Ancaman Ekosistem: Selain emisi gas rumah kaca, proyek ini mengancam keanekaragaman hayati di kawasan Amerika Selatan yang sangat sensitif secara ekologis.

Langkah Amerika Serikat ini menempatkan Presiden dan jajaran pemerintahannya dalam posisi sulit. Di satu sisi, AS membutuhkan pasokan energi yang stabil untuk menekan inflasi dan mengurangi ketergantungan pada blok energi lain. Namun di sisi lain, kebijakan ini dianggap sebagai “pengkhianatan” terhadap Perjanjian Paris.

Sementara AS mendesak negara lain untuk beralih ke energi terbarukan, mereka justru memfasilitasi ekspansi besar-besaran bahan bakar fosil di luar negeri.

Negara-negara kepulauan kecil dan wilayah yang terdampak perubahan iklim mulai menyuarakan protes keras atas rencana ini.

Para ahli iklim memperingatkan bahwa jika rencana ini diteruskan, target emisi nol bersih (net zero) pada tahun 2050 praktis menjadi mustahil dicapai. “Kita tidak bisa lagi menambah proyek bahan bakar fosil baru, apalagi yang berskala masif seperti di Venezuela, jika kita ingin memberikan masa depan bagi generasi mendatang,” tegas seorang peneliti senior.[]