Bitcoin Anjlok di Bawah US$90.000 Akibat Sentimen Negatif dari Kekhawatiran Sektor AI

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com – Pasar kripto global terguncang hebat setelah harga Bitcoin (BTC) anjlok tajam, menembus di bawah level psikologis penting US$90.000. Penurunan mendadak ini diyakini sebagian besar dipicu oleh koreksi sentimen investor di pasar saham global, khususnya yang berkaitan dengan sektor teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI), yang membuat selera risiko (risk appetite) global menurun drastis.

Pada perdagangan terbaru, Bitcoin diperdagangkan mengalami penurunan dalam 24 jam terakhir. Altcoin utama lainnya, seperti Ethereum dan Solana, juga mengikuti tren penurunan, memperlihatkan korelasi tinggi antara pasar kripto dengan pergerakan pasar ekuitas berisiko.

Pemicu utama gejolak ini adalah adanya aksi ambil untung (profit-taking) yang masif di saham-saham raksasa teknologi AS yang terkait erat dengan booming AI. Investor semakin khawatir bahwa valuasi perusahaan AI telah mencapai tingkat “gelembung” (bubble) yang tidak berkelanjutan.

Ketika terjadi koreksi tajam di saham-saham teknologi, investor institusional cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap semua aset yang dianggap berisiko tinggi termasuk Bitcoin. Kripto, yang sering diperlakukan sebagai proxy likuid untuk investasi teknologi, menjadi sasaran utama penarikan modal.

“Bitcoin saat ini bergerak seirama dengan NASDAQ. Begitu ada kekhawatiran tentang profitabilitas dan valuasi di sektor AI, likuiditas langsung ditarik keluar dari aset paling spekulatif, dan itu adalah kripto,”.

Penembusan level US$90.000 menjadi sinyal *bearish* bagi banyak analis teknikal. Apabila tekanan jual terus berlanjut, level dukungan (support) berikutnya yang sangat krusial bagi Bitcoin.

Meskipun demikian, beberapa pihak berpendapat koreksi ini adalah bagian dari siklus pasar yang sehat, yang diperlukan untuk membersihkan pasar dari spekulan yang terlalu agresif sebelum melanjutkan tren kenaikan jangka panjang. Investor disarankan untuk memantau ketat data inflasi dan keputusan suku bunga The Fed, yang juga masih mendominasi sentimen pasar global.