Minim Publikasi, Banjir Besar di Tapteng dan Sibolga Tak Terpantau di Media Sosial Hingga Siang Hari

SEANTERONEWS.com — Banjir besar yang terjadi di wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga pada 25 November 2025 menjadi perhatian serius, namun ironisnya tidak banyak memperoleh sorotan di media sosial maupun kanal informasi nasional. Hingga pukul 13.00 WIB, pencarian di platform X dengan kata kunci “Banjir Tapteng” dan “banjir Sibolga” nyaris tidak menampilkan laporan berarti, padahal di lapangan situasi disebut cukup parah dan meresahkan warga.
Fenomena ini menegaskan masih adanya kesenjangan ekspos informasi antara wilayah Jawa dan luar Jawa. Kejadian bencana di sejumlah daerah di Sumatera, Kalimantan, atau Indonesia Timur kerap tidak viral dan tidak banyak dibahas, meskipun dampaknya besar bagi masyarakat setempat. Publikasi yang minim membuat masyarakat luar daerah tidak mengetahui kondisi sebenarnya.
Minimnya unggahan warga lokal dan kurang aktifnya kanal media daerah di platform digital menjadi salah satu penyebab mengapa informasi bencana tersebut tidak cepat menyebar. Selain itu, algoritma media sosial yang lebih memprioritaskan konten viral dari wilayah dengan jumlah pengguna lebih banyak turut memengaruhi rendahnya ekspos bencana di wilayah seperti Tapteng dan Sibolga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran digital dan kemampuan dokumentasi masyarakat di beberapa daerah masih terbatas. Infrastruktur internet yang belum merata dan rendahnya literasi digital menyebabkan laporan kejadian penting tidak segera muncul di ruang publik digital.
Tidak terlihatnya laporan banjir di media sosial juga memberi dampak terhadap lambatnya respons publik dan bantuan. Tanpa informasi yang viral atau masif, perhatian pemerintah pusat maupun masyarakat nasional cenderung terlambat, sehingga penanganan bencana bisa menjadi kurang optimal.
Situasi tersebut menjadi pengingat pentingnya memperkuat jurnalisme daerah dan membangun sistem pelaporan cepat di wilayah rawan bencana. Kehadiran media online lokal yang aktif, relawan informasi digital, serta koordinasi dengan pemerintah daerah sangat dibutuhkan agar setiap kejadian besar dapat terlaporkan dengan baik.
Kejadian banjir di Tapteng dan Sibolga ini membuktikan bahwa viral bukanlah ukuran dari besarnya dampak sebuah peristiwa. Bencana tetap terjadi, warga tetap terdampak, tetapi tanpa publikasi yang kuat, peristiwa besar dapat lenyap dari perhatian publik nasional.[]