Ramaphosa: Tujuan G20 Kalahkan Perbedaan, Ini 3 Poin Kuncinya

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Banda Aceh – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, telah resmi ditutup dengan gemuruh keberhasilan diplomatik yang mengejutkan, meskipun diliputi ketegangan besar dan skandal boikot dari salah satu negara adidaya.

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menegaskan bahwa deklarasi puncak yang berhasil disepakati menunjukkan komitmen baru terhadap kerja sama multilateral. Dalam pidato penutupnya, Ramaphosa dengan lantang menyatakan:

“Tujuan bersama kita jauh lebih besar daripada perbedaan kita. Deklarasi ini adalah komitmen nyata untuk memperbaiki kehidupan masyarakat di seluruh dunia.”

Pernyataan ini muncul sebagai tamparan dingin terhadap upaya perpecahan dan menjadi headline global yang tak terhindarkan, memastikan Afrika Selatan mencetak sejarah sebagai tuan rumah KTT G20 yang paling berani dan berorientasi pada negara berkembang.

Mengabaikan tradisi, Afrika Selatan menerbitkan Deklarasi G20 di hari pertama KTT, sebuah langkah agresif yang memaksa anggota untuk segera berkomitmen. Deklarasi ini berhasil merangkum fokus utama yang sangat dibutuhkan oleh Global South, menggeser narasi dari kepentingan ekonomi negara maju.

Berikut adalah tiga pilar utama yang menjadi masterpiece Ramaphosa:

  1. Tindak Lanjut Krisis Iklim: Seruan mendesak untuk tindakan nyata dalam menghadapi krisis iklim, termasuk penyediaan bantuan finansial yang cepat untuk pemulihan bencana terkait iklim di negara-negara berkembang.

  2. Relaksasi Utang (Debt Relief): Memprioritaskan upaya untuk meringankan tingkat utang negara-negara miskin, membebaskan mereka dari belenggu finansial yang menghambat pertumbuhan.

  3. Transisi Energi Hijau: Dukungan penuh untuk transisi energi hijau, memastikan negara-negara berkembang memiliki sumber daya dan teknologi untuk beralih ke sumber energi berkelanjutan.

Deklarasi yang didukung oleh kekuatan ekonomi utama seperti Tiongkok, Rusia, Jerman, dan Prancis ini mengirimkan pesan tegas bahwa kepentingan kolektif untuk mengatasi ketidaksetaraan global telah mendominasi arena diplomasi tingkat tinggi.

Meskipun sukses, KTT ini diwarnai oleh drama geopolitik yang sangat clickbait. Presiden AS, Donald Trump, memutuskan untuk memboikot acara tersebut karena tuduhan kontroversial terhadap pemerintah tuan rumah.

Namun, ketegangan memuncak di akhir KTT ketika terjadi insiden serah terima kepresidenan G20 ke Amerika Serikat. Afrika Selatan dengan tegas menolak untuk menyerahkan kepresidenan kepada perwakilan yang mereka sebut sebagai “pejabat junior” AS.

Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola, menyatakan penolakan tersebut adalah masalah protokol dan harga diri:

“Amerika Serikat adalah anggota G20, dan jika mereka ingin diwakili, mereka harus mengirim siapa pun di tingkat yang tepat. Ini adalah KTT para pemimpin. Tingkat yang tepat adalah kepala negara, utusan khusus, atau seorang menteri. Kami tidak akan menerima penghinaan terhadap kepresidenan kami.”

Insiden ini memperdalam keretakan diplomatik, namun Ramaphosa, yang menampik semua tuduhan, tetap menegaskan bahwa kepresidenan G20 kini telah beralih ke AS untuk tahun 2026.