Israel Dituding Langgar Gencatan Senjata, Berikut Palestina Tewas dalam Empat Hari di Gaza

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

 

 

SEANTERONEWS.com – Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memburuk setelah laporan menunjukkan bahwa Israel melakukan pelanggaran gencatan senjata berulang kali, mengakibatkan sedikitnya 62 warga Palestina tewas hanya dalam empat hari pertama sejak perjanjian gencatan diberlakukan.

Berdasarkan data yang beredar, pelanggaran terjadi secara beruntun antara 10 hingga 13 Oktober 2025. Pada 10 Oktober, tercatat 17 warga Palestina tewas, disusul 35 korban jiwa pada 11 Oktober, 7 orang pada 12 Oktober, dan 3 orang pada 13 Oktober. Data tersebut menunjukkan bahwa gencatan senjata yang seharusnya menghentikan kekerasan justru tidak dijalankan secara efektif oleh pihak Israel.

Sumber-sumber lokal di Gaza menyebutkan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, yang menjadi sasaran serangan udara dan tembakan artileri di berbagai wilayah padat penduduk. Banyak bangunan hancur, sementara warga yang selamat terpaksa mengungsi ke lokasi yang dianggap lebih aman.

Aktivis kemanusiaan mengecam tindakan ini dan menyebut Israel secara terang-terangan melanggar prinsip-prinsip hukum internasional serta semangat perdamaian. Mereka juga menyerukan komunitas global untuk segera menekan Israel agar menghentikan segala bentuk agresi di Gaza.

“Bagaimana bisa disebut gencatan senjata kalau setiap hari masih ada serangan dan korban jiwa? Dunia harus buka mata bahwa ini bukan perdamaian, melainkan genosida yang terus berlanjut,” ujar salah satu relawan di Gaza.

Pelanggaran berulang ini memicu kemarahan di dunia internasional, terutama di negara-negara Muslim dan organisasi hak asasi manusia, yang menuntut adanya investigasi independen atas insiden tersebut.

Sementara itu, otoritas Palestina menegaskan bahwa mereka akan membawa kasus pelanggaran ini ke forum internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB, sebagai bentuk protes atas tindakan sepihak Israel yang terus menelan korban jiwa di tengah situasi yang disebut “gencatan senjata.”[]