Reaktualisasi Dakwah di Zaman Kemalasan Spiritual; Melihat Kembali Pesan Surat An-Nas

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Oleh : Ustadz Murtala, MA**

Pendahuluan: Dari Konsep Teologis ke Imperatif Sosial

Dalam literatur tafsir, Surat An-Nas sering dibahas sebagai permohonan perlindungan dari godaan setan yang tersembunyi (waswas). Namun, jika direnungkan lebih dalam, surah ini justru menjadi landasan filosofis yang kuat mengapa dakwah itu penting. Permintaan perlindungan kepada Allah dari “kejahatan yang membisikkan ke dalam dada manusia” bukanlah perintah untuk pasif, melainkan pengakuan bahwa pertarungan melawan kebatilan adalah pertarungan ide dan pengaruh. Di sinilah dakwah, sebagai upaya aktif menebar pengaruh kebaikan, menemukan urgensinya.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ali ‘Imran ayat 104, yang sering disebut sebagai pilar dakwah:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini, dikombinasikan dengan konsep kunci masuk surga (iman, amal saleh, dakwah, sabar), membentuk siklus keberagamaan yang dinamis, bukan statis.

Analisis: Empat Pilar Menuju Surga dan Kaitannya dengan Dakwah

  1. Iman (Keyakinan): Pondasi yang Harus Dirawat dengan Dakwah
    Iman bukanlah status yang sekali jadi. Ia seperti tanaman yang harus disirami. Dakwah, baik kepada diri sendiri (da’wah bin-nafs) maupun orang lain, adalah proses penyiraman itu. Ketika seseorang malas mengaji (mempelajari sumber iman) dan mengajarkan, imannya rentan dilanda “waswas” sebagaimana dalam An-Nas—yaitu keraguan, kealpaan, dan godaan duniawi. Dakwah adalah mekanisme pertahanan iman kolektif.
  2. Amal Saleh (Aksi Nyata): Bukti Keimanan yang Menjadi Materi Dakwah
    Amal saleh adalah bentuk konkret dari iman. Namun, ia memiliki fungsi ganda: sebagai ibadah individu dan sebagai “materi visual” dakwah yang paling efektif. Ketika seorang muslim jujur dalam berdagang, santun dalam berkata-kata, dan membantu sesama, itu adalah dakwah bil hal (dakwah dengan keteladanan) yang lebih powerful dari ribuan kata-kata. Kemalasan beramal saleh membuat dakwah kehilangan kredibilitasnya.
  3. Dakwah (Seruan): Kewajiban Logis dari Iman dan Amal Saleh
    Dakwah adalah napas dari iman dan amal yang hidup. Ia adalah tanggung jawab sosial dari keberkahan ilmu dan amal yang diterima. Rasulullah SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari). Perintah ini bersifat universal dan tidak terkait dengan tingkat ilmu. Zaman sekarang, di mana informasi negatif membanjiri setiap gawai, berdiam diri sama saja dengan membiarkan “waswas” menguasai ruang publik. Kemalasan berdakwah adalah bentuk pengabaian tanggung jawab ini.
  4. Bersabar: Syarat Keberhasilan Dakwah di Zaman Edan
    Sabar menghadapi penolakan, ejekan, dan keletihan adalah bagian tak terpisahkan. Allah langsung mengaitkan dakwah dengan kesabaran dalam Surat Al-‘Asr: وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ “Dan saling menasihati untuk menaati kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” Di era yang serba instan, di mana hasil dakwah dituntut untuk langsung terlihat, kesabaran inilah yang seringkali hilang, membuat banyak orang menjadi patah semangat dan memilih untuk tidak berdakwah.

Korelasi dengan Kondisi Zaman Sekarang: Melawan Gelombang Kemalasan Spiritual

Islam tidak disebarkan oleh burung, tetapi oleh jihad, usaha, dan kerja keras. Hari ini, kita menghadapi musuh yang berbeda namun sama berbahayanya: kemalasan spiritual dan kejenuhan informasi.

· Malas Mengaji (Tidak Mengisi “Iman”): Generasi terjebak dalam scroll culture media sosial yang memberikan dopamine instan tetapi miskin makna. Mengaji yang membutuhkan ketenangan dan perenungan menjadi kegiatan yang “tidak menarik”.
· Malas Mengajarkan (Tidak Menjalankan “Dakwah”): Munculnya sikap individualisme religius—”urusan iman saya urusan saya sendiri”—yang bertentangan dengan konsep “ummatan wasathan” (umat tengahan) yang menjadi penengah dan pelurus bagi yang lain. Ketakutan dianggap sok alim atau tidak toleran menjadi penghalang psikologis yang kuat.

Solusi dan Reorientasi: Dakwah di Era Digital 2025

Dakwah zaman now harus mengadopsi semangat kerja keras para pendahulu, tetapi dengan metode yang sesuai konteks.

  1. Dakwah Bil-Hal (Keteladanan) yang Konsisten: Di dunia yang penuh dengan kemunafikan, integritas dan akhlak mulia adalah dakwah paling jitu. Jadilah pengusaha yang jujur, pegawai yang amanah, dan netizen yang santun.
  2. Dakwah Bil-Lisan (Ucapan) yang Kreatif: Memanfaatkan platform digital untuk konten dakwah yang ringan, visual, dan solutif. Tidak harus ceramah panjang, tetapi bisa melalui infografis, thread Twitter yang informatif, atau video pendek yang menginspirasi.
  3. Dakwah Berjamaah (Kolektif): Membangun komunitas-komunitas kecil yang solid (seperti halaqah online/offline) untuk saling mengingatkan (tawaashau bil haqq), sehingga beban dakwah tidak terasa sendirian.
  4. Orientasi Ridha Allah, Banyaknya “Like“: Konsistensi dakwah hanya bisa bertahan jika niatnya ikhlas untuk mencari ridha Allah, bukan popularitas atau validasi sosial. Ini adalah obat dari kelelahan dan penolakan.

Kesimpulan

Surat An-Nas mengingatkan kita bahwa medan pertarungan sejati adalah dalam hati dan pikiran manusia. Dakwah adalah jihad kontemporer untuk memenangkan pertarungan itu. Kemalasan untuk mengaji dan mengajarkan adalah kemenangan sementara bagi “waswas khannas“. Dengan kembali kepada empat pilar—Iman, Amal Saleh, Dakwah, dan Sabar—kita tidak hanya mengamankan tiket individu ke surga, tetapi juga berkontribusi aktif membangun peradaban yang memiliki ketahanan spiritual di tengah gempuran zaman. Semangat kerja keras dan pengorbanan para pendahulu dalam menyebarkan Islam harus menjadi inspirasi, bahwa warisan itu kini berada di pundak kita untuk diteruskan dengan cara-cara yang relevan dan tidak kenal lelah.[]

**)Penulis: Ustadz Murtala,MA (Kepala Panti Asuhan Rahmania)