Tragedi Idi Cut: Luka Kolektif yang Tak Terhapus dari Ingatan Aceh

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SeanteroNews.com – Aceh memiliki catatan sejarah panjang penuh darah dan air mata. Salah satu tragedi kemanusiaan yang membekas hingga kini adalah peristiwa di Idi Cut, Aceh Timur, ketika masyarakat yang baru pulang dari mengikuti ceramah agama diserang secara brutal.

Awalnya, jamaah disambut dengan lemparan batu. Namun serangan tidak berhenti di situ. Rentetan peluru dilepaskan ke arah kerumunan. Kepanikan pecah, jeritan memenuhi udara, dan dalam sekejap puluhan orang meregang nyawa, sebagian hilang tanpa kabar, sementara ratusan lainnya menderita luka-luka.

Tragedi ini tidak berhenti pada penembakan. Mayat korban dikumpulkan, dimasukkan ke dalam karung, diberi pemberat batu, lalu ditenggelamkan ke aliran sungai Arakundoe. Sungai yang biasanya menjadi sumber kehidupan warga berubah menjadi saksi bisu kebiadaban yang merenggut nyawa tak berdosa.

Bagi masyarakat Aceh, peristiwa Idi Cut bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah luka batin kolektif, sekaligus pengingat bahwa kekerasan dan penindasan pernah menjadi realitas pahit di tanah rencong. Banyak keluarga kehilangan sanak saudara tanpa bisa memakamkan mereka secara layak, karena jasadnya raib di dasar sungai.

Hari ini, tragedi Idi Cut dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang konflik dan penderitaan rakyat Aceh. Ia menuntut ruang dalam sejarah Indonesia untuk tidak dilupakan, agar generasi mendatang belajar tentang betapa mahalnya harga perdamaian dan betapa pentingnya menjaga martabat kemanusiaan.[]