Pendidikan Semakin Mahal: Efek Anggaran yang Tidak Tepat Sasaran

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

SEANTERONEWS.com — Biaya pendidikan di Indonesia terus meningkat, bahkan menjadi salah satu penyebab utama inflasi. Fenomena ini mencerminkan bahwa anggaran pendidikan, meskipun besar, belum efektif meringankan beban masyarakat.

Alokasi Anggaran Belum Berdampak

Indonesia telah mengalokasikan sekitar 20% dari APBN untuk sektor pendidikan. Namun, sebagian besar dana tersebut justru digunakan untuk administrasi, teknis, atau even lembaga lain bukan langsung untuk fasilitas dan kualitas pendidikan. Struktur ini menyebabkan ketidakefisienan dan minimnya manfaat bagi siswa dan keluarga kurang mampu.

Lebih khusus, sekitar 40% dari anggaran pendidikan ditangani oleh lembaga non-kementerian pendukung pendidikan, sementara hanya sekitar 60% yang dialirkan langsung ke Kementerian Pendidikan dan Kemenag. Ketimpangan ini makin jelas ketika sebagian besar dana menyasar sekolah kedinasan yang hanya melayani puluhan ribu siswa, sementara puluhan juta siswa di sekolah formal menerima pasokan lebih sedikit.

Dampaknya: Biaya Pendidikan Semakin Berat

Biaya pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi termasuk di antara yang tertinggi secara globalnmenyentuh angka rata-rata sekitar US$18.400. Kondisi ini membuat pendidikan menjadi tidak ramah bagi banyak keluarga.

Akibatnya, tingginya biaya mendesak beberapa siswa untuk memutuskan pendidikan, masuk jurang ketimpangan akses, apalagi ketika sistem beasiswa dan bantuan sering tidak tepat sasaran. Dana beasiswa pun terkadang terpotong hingga separuh tanpa dampak signifikan terhadap jumlah penerima bantuan.

Rendahnya Serapan dan Evaluasi

Masalah lain adalah rendahnya serapan anggaran sekitar Rp 111 triliun tidak tersalurkan secara efektif. Minimnya rencana strategis, buruknya distribusi di daerah terpencil, dan lemahnya sistem pengawasan menjadi akar permasalahan.[]