Perang Terbaru dengan Iran Tinggalkan 19.000 Warga Israel Mengungsi, 3.345 Terluka, dan 45.000 Klaim Kerusakan

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Tel Aviv – Media Israel mengungkap dampak besar perang terbaru antara Iran dan Israel terhadap kondisi domestik. Sedikitnya 13.000 hingga 19.000 pemukim Israel kehilangan tempat tinggal di 17 wilayah, dengan lebih dari 45.730 klaim kompensasi diajukan ke otoritas pajak, sebagian besar terkait kerusakan bangunan.

Menurut laporan surat kabar Maariv, Komite Pengawas Negara di Knesset membahas laporan kesiapsiagaan otoritas lokal dalam menghadapi situasi darurat. Hasilnya menunjukkan kegagalan serius pemerintah dalam menangani krisis, termasuk buruknya koordinasi dan lemahnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.

Ketua Komite dan anggota Knesset, Mickey Levy, menyatakan bahwa kegagalan ini telah berulang selama 20 tahun. “Tidak ada kesiapan menyeluruh, tidak ada tanggung jawab. Negara ini tidak belajar apa-apa, bahkan setelah peristiwa 7 Oktober,” katanya.

Menurut Pusat Penelitian Knesset, sekitar 11.000 pengungsi ditampung di sekitar 100 hotel di wilayah pendudukan, sementara sisanya mencari tempat tinggal sendiri. Pemukiman yang terdampak termasuk Tel Aviv (2.550 orang), Ramat Gan (2.500), Bnei Brak (2.050), Beer al-Sabe’ (1.700), Bat Yam (1.300), Holon (1.050), dan Petah Tikva (1.000).

Selama rapat, otoritas lokal mengkritik keras pemerintah pusat atas minimnya dukungan dan koordinasi. Mereka menyoroti celah besar dalam penguatan infrastruktur dan ketiadaan solusi hunian jangka panjang, serta beban ekonomi yang semakin besar akibat pengungsian massal.

Avi Mishrim dari Otoritas Darurat Nasional menyebut bahwa koordinasi bukan tanggung jawab lembaganya, melainkan kewenangan Kantor Perdana Menteri. Sementara itu, Karine Ofer dari Kementerian Sosial mengakui bahwa tidak ada lembaga tunggal yang menangani rehabilitasi korban, dan banyak pengungsi tidak tahu hak-hak mereka.

Mengutip data dari Kementerian Kesehatan Israel, laporan juga mencatat bahwa sekitar 3.345 warga terluka akibat serangan balasan rudal Iran selama perang 12 hari tersebut. Dari jumlah itu, 23 orang masih dalam kondisi kritis dan tiga lainnya meninggal dunia di rumah sakit. Selain itu, terjadi lonjakan kasus gangguan psikologis pasca-trauma, baik dari pasien baru maupun pasien lama yang kembali mencari bantuan psikologis.[]