Trump Setujui Rencana Serangan ke Iran Secara Diam-diam, Tapi Tahan Perintah Akhir

SEANTERONEWS.com – Presiden AS Donald Trump secara pribadi menyetujui rencana militer untuk menyerang Iran, namun hingga Kamis (19/6/2025) belum mengeluarkan perintah final, demikian laporan dari Wall Street Journal
Menurut sumber-sumber terpercaya, Trump memberi lampu hijau untuk mengikuti serangan udara Israel terhadap infrastruktur nuklir dan militer Iran — bagian dari Operation Rising Lion — tapi memilih menunggu apakah Teheran akan menghentikan program nuklirnya.
“Rencana militer sudah siap — saya mungkin akan lakukan, atau mungkin tidak,” kata Trump kepada wartawan, “Saya suka membuat keputusan terakhir satu detik sebelum diperlukan,” papar laporan itu .
Salah satu target utama adalah fasilitas pengayaan uranium Fordow Iran, yang berada di dalam perbukitan dan tahan terhadap serangan konvensional. Serangan ke sini hanya mungkin dilakukan dengan bom bertenaga tinggi.
Sementara Trump menahan eksekusi, Pentagon telah menyiapkan armada dan dukungan logistik: kapal induk, kapal perang anti-rudal, pesawat tankis, dan jet tempur F‑22 dikerahkan ke Timur Tengah dan Eropa.
Trump mengharapkan tekanan strategis ini akan memaksa Iran untuk menyerah secara tak bersyarat, namun muncul pula harapan diplomatik bahwa ancaman militer bisa membuka jalan bagi negosiasi nuklir.
Iran, melalui Pemimpin Tertingginya, Ayatollah Khamenei, menegaskan tidak akan tunduk di bawah tekanan: serangan militer pasti akan dibalas dan mereka tidak akan menyerah.
Para pejabat pertahanan AS, termasuk Menteri Hegseth dan Jenderal Caine, dikabarkan mendiskusikan skenario pasca-penyerangan serta mitigasi risiko serangan Iran terhadap pasukan AS.
Beberapa pengamat memperingatkan bahwa walau pengunduran perintah eksekutif memberi ruang diplomasi, hal itu juga memunculkan ketidakpastian tinggi yang dapat memicu respons militer tak terduga .
Sementara itu, Pemerintah Rusia dan Oman menyerukan penghentian eskalasi militer dan mengambil pendekatan diplomatik, bahkan menyoroti risiko gangguan geopolitik jika konflik merembet .
Dengan rencana serangan AS yang sudah disetujui secara internal namun ditahan pelaksanannya, dunia kini memasuki fase tegang: apakah Trump akan benar-benar memutuskan untuk menyerang, atau menunggu diplomasi membuka jalan?[]